Social Icons

Sunday, June 26, 2016

Ulambanapatra Sutra

Ulambanapatra Sutra

Demikian yang telah kudengar, pada suatu ketika, Hyang Buddha tinggal di Sravasti, di hutan Jeta di Taman Anathapindika. Pada saat itu, di kota Sravasti terdapat seorang siswa Buddha bernama Maha Maudgalyayana. 

Demi menyelamatkan oragntuannya yang telah meninggal dunia, maka beliau datang kepada Hyuang Buddha dan belajar Dharma luhur dengan tekun. Berkat ketekunannya menghayati ajaran-ajaran Hyang Buddha maka beliau dapat memperoleh 6 macam Tenaga Batin (Sad Abhina). Dengan kepandaian itu beliau berhasrat membebaskan kedua orangtuannya dari kesengsaraan sebagai balas-budi atas jasa-jasa orangtuannya. 

Kemudian beliau bersamadhi, lalu dengan mata-batinnya mengamati seluruh alam semesta, dan melihat ibunya berada di alam Setan-Kelaparan. Oleh karena itbunya terlalu lama tidka dapat makan dan minum, maka tubuhnya tinggal tulang dan kulit yang kering, kurus dan pucat. Melihat kondisi ibunya sedemikian buruk, sedihlah hati Maha Maudgalyayana sehingga pikirnanya menjadi terganggu dan tidak tenang. 

Dengan amat tergesa-gesa beliau mengisi patranya dengan nasi, dan dengan daya-gaib nasi itu dikirimkannya kepada ibunya yang malang itu. Karena ia merasa sangat lapar serta khawatir nasinya direbut oleh setan-setan lain, maka setelah nasi itu diterma ibunya cepat-cepat menutupi nasi tersebut dengan telapak tangan kiri dengan serapat-rapatnya. 

Kemudian dengan tangan kanan ia mengambil segenggam nasi untuk meringankan rasa laparnya, tetapi betapa malangnya, begitu nasi itu sampai di depan mulutnya berubah menjadi arang yang membara dan iapun tak dapat memakannya dan tetap kelaparan. Melihat nasib ibunya yang malang itu, 

Maha Maudgalyayana sebagai seorang anak yang sangat cinta kepada orangtuannya, tiba-tiba berteriak sekeras-kerasnya serta menangis sejadi-jadinya. Karena tidak ada jalan lain terpaksalah beliau dengan perasaan dukacita kembali ke Vihara dan menyampaikan apa yang telah dialaminya kepada Hyang Sakyamuni Buddha. Hyang Buddha menerangkan kepada Maha Maudgalyayana:

“O, Maha Maudgalyayana yang berbudi, apa sebabnya hingga daya kegaibanmu tidak dapat berbua sesuatu terhadap seseorang yang bertubuh Setan-Kelaparan? Ketahuilah, sebabnya adalah dosa-dosa yang pernah ditimbun oleh ibumu pada masa silam itu akarnya terlalu dalam, tentu saja kamu sendiri tidak dapat mencabut akar itu hanya dengan gaya gaib tanpa disertai kebajikan. 

Dan akar kejahatan itu tidak dapat kamu cabut seorang diri dengan mengandalkan daya gaib saja. Walaupun kamu bermaksud baik, bercita-cita luhur, sampai-sampai teriakanmu yang mengharukan bisa mengguncangkan langit dan bumi, tetap saja para Dewata, para Dewa Bumi dan Sorga, para orang suci, bahkan Raja Adikuasa dari Surga Catur Maharajakayika dan sebagainya, tidak dapat berbuat apa-apa; kesemuannya kehilangan cara untuk membantumu dan semua maksud baik dan segala keingianmu itupun sia-sia.”

Hyang Buddha melanjutkan sabda-Nya: “Ketahuilah O Maha Maudgalyayana yang berbudi! Jika segala keinginan dan cita-citamu ingin terwujud, undanglah para Bhiksu dan Bhiksuni dari Sravaka-Sangha yang berada di 10 penjuru; butlah suatu kebaktian bersama dan buatlah juga kebajikan-kebajikan untuk dianugerahkan kepada ibumu. Dengan demikian segala belenggu dan kesengsaraan yang menimpa ibumi akan lepas semua.” “Sekarang akan 

Kuuraikan cara untuk menyelamatkan para umat yang sedang mengalami siksaan di Aalam Samsara kepada anda sekalian.”

Hyang Buddha bersabda kepada Maha Maudgalyayana lagi: “Dengarlah baik-baik O Maha Maudgalyayana yang berbudi! Pada setiap tanggal 15 bulan 6 (menurut penanggalan Candrasangkala) adalah Haru Pravarana Sangha. 

Pada saat inilah para Bhiksu dan Bhiksuni yang berada di 10 penjuru berlibur, dan pada saat itu pulalah mereka sering mengadakan pembincangan untuk pertobatan.” “Pada saat itu, kamu bisa mengambil kesempatan untuk mengadakan suatu upacara berdana makanan kepada para orang suci, yakni upacara Ulambana namanya. Dan gunannya khusus untuk menyelamatkan orangtua si pemuja baik mereka yang masih hidup maupun yang telah meninggal atau yang sedang tertimpa malapetaka.

Demikian pula untuk orangtua sebanyak 7 turunan yang hidup pada masa silam dan berada di Alam Samsara, di mana mereka belum mendapat kesempatan untuk membebaskan dirinya, juga dapat diselamatkan.” “Tepat pada waktunya sediakan nasi dan bermacam-macam saayur-mayur, wewnagian, minyak guruh, pelita dan lain-lainnya; boleh disertai alat-alat untuk mengambil air, untuk mandi dan minum. Boleh juga disertai perabot rumah. 

Dan bahan untuk sajian itu boleh dipilih dari barang yang bagus, sesuai dengan kemampuan si pemuja.” “kemudian sajian-sajian tersebut setelah disiapkan diletakkan pada suatu tempat suci khusus untuk upacara Ulambana, lalu semua sajian itu dipersembahkan kepada para tokoh bijak dan para orang suci.”

“Sebelum upacara itu diadakan, beritahukanlah ke seluruh penjuru, sehingga tepat ketika upacara diadakan, rombongan Arya akan datang untuk ikut bergembira dan merayakan upacara Ulambana yang diadakan oleh para pemuja. Para Arya tersebut adalah mereka yang sedang melakukan Samadhi di gunung-gunung; Para suci yang telah mencapai 4 macam pahala Buddha dengan identita bertingkat Arhat yang sedang berkelana dari bawah pohon ke pohon; Atau yang telah memperoleh Sad Abhijna, kemudian mereka yang sedang menjalankan kewajiban mengajarkan Dharma luhur kepada para Sravaka atau para Pratyekabuddha diberbagai daerah; Dan Bodhisattva-Mahasattva yang berstatus Dasa-Bhumiya (Sepuluh Tingkat Bhumi) yang mana mereka dapat menjelmakan dirinya sebagai Bhiksu, Bhiksuni, dan berbaur di dalam kelompok Sravaka-Sangha, menjadikan rombongan Arya sangat meriah.”

“Ketahuilah, rombongan Arya tersebut datang ke tempat suci itu, bukan karena berniat mengambil sedekah makanan atau sajian belaka, tetapi mereka akan mempergunakan kewibawaan, kemampuan, dan kebajikan yang telah diperleh dari prilaku Sila-suci mereka. Dan jasa-jasa yang maha agung itu mereka limpahkan kepada para leluhur atau kedua orangtua si pemuja baik yang masih hidup maupun telah meninggal.”

“Ketahuilah O, Maha Maudgalyayana yang berbudi! Barang siapa yang mengadakan upacara ini pada hari Pravaraana Sangha, maka orangtuannya yang masih hidup akan mendapatkan umur panjang, cukup sandang dan pangan, serta hidup mereka akan bahagia. Dan leluhurnya yang telah meninggalpun akan mendapat berkat yaitu jika leluhurnya berada di 3 Alam Samsara maka akan dibebaskan, bahkan apabila akar kejahatannya tidak berat, leluhurnya itu bisa mendapatkan tubuh yang bersinar dan disniari dari Sinar Buddha Mandarawa Sorga.”

Setelah mendengar uraian Hyang Buddha, lalu Maha Maudgalyayana bertekad untuk mengadakan upacara Ulambana untuk orangtuannya (ibunya) yang malang itu. Menjelang Hari Pravarana Sangha dan upacara Ulambana yang diakan oleh Maha Maudgalyayana, Hyang Buddha lantas mengumumkan dan memerintahkan kepada para Bhiksu, Bhiksuni, dan para Sravaka-Sangha yang berada di berbagai daerah agar semua berkumpul guna mengadakan persembahyangan, agar para leluhur atau orangtua si pemuja, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal beserta para leluhur sebanyak 7 turunan dan familinya mendapat kesempatan untuk membebaskan dirinya dari Alam Samsara secepat mungkin. 

Setelah para suci berkumpul, mereka langsung mengadakan upacara persembahyangan serta mengucapkan mantra-mantra penting, kemudian melakukan meditasi dengan suasana yang amat khidmat. Setelah meditasi selesai barulah para hadirin menerima dana dan makanan beserta sajian lain, semuanya diletakkan di altar Buddha rupang atau dikelilingkan pada Stupa Buddha, dan para hadirin mengucapkan mantra lagi. Setelah selesai barulah dimakan dengan cara biasa. 

Pada saat upacara Ulambana itu selesai, Maha Maudgalyayana bersama para Bhiksu, Bhiksuni, para Bodhisattva-Mahsattva semua merasa amat senang dan gembira. Dan mulai saat itu persaaan dukacita dan keluh kesan Maha Maudgalyayana hilang total. Berkat kepahalaan dari upacara Ulambana tersebut, ibu Maha Maudgalyayana terbebas dari alam Setan-Kelaparan, dan masa hukumannya yang seharusnya dijalani sampai satu kalpa dihapuskan. 

Sewaktu Maha Maudgalyayana menyaksikan ibunya membebaskan dirinya dari Alam Samsara itu, tiba-tiba dalam hati beliau timbul perasaan iba terhadap para makhluk yang masih berada di alam Setan Kelaparan, yang masih menjalani hukuman di alam tersebut.

Lalu beliau dengan berat hati menanyakan kepada Hyang Buddha: ‘O Lokanatha yang termulia! Sekarang ibu saya bersyukur karena diberkati oleh kekuatan maha-jasa dari Triratna beserta kewibawaan dan kebajikan para Sravaka Sangha, ......tetapi apakah para putra-putri yang berbudi atau siswa-siswi Buddhis di masa yang akan datang dapat menggunakan cara Ulambanapatra ini untuk menyelamatkan orangtua atau ayag-ibunya dalam 7 turunan yang telah meninggal pada masa silam? Sudikah kiranya Hyang Lokanatha menjelaskannya!” “Sadhu! Sadhu! Sadhu! Siswaku yang berbudi!” Hyang Buddha memuji Maha Maudgalyayana, “bagus sekali pertanyaanmu! Sesungguhnya hal-hal yang demikian penting itu telah siap Kuuraikan kepada para umat sekalian, akan tetapi perhatianmu telah mendahului-Ku.

Sekarang dengarlah baik-baik, O, Putra-putri yang berbuydi! Apabila terdapat bhiksu, Bhiksuni, para raja, pangeran, pejabat-pejabat kerajaan, serta para rakyat jelata yang berada di masa sekarang atau di masa mendatang berkasrat ingin melaksanakan bakti, membalas budi kepada orangtuannya; iba-hati kepada para makhluk sengsaran, mereka boleh menyediakan berbagai macam makanan serta sajian lain pada Hari Pravarana Sangha itu, dan mengadakan upacara Ulambana di suatu tempat suci dengan maksude berdana makanan kepada orang suci yang datang dari 10 penjuru, sehingga ayah-bunda mereka yang masih hidup mendapat umur panjang dan senantiasa menikmati hidup yang sejahtera. Sedangkan orangtua mereka yang telah meninggal beserta ayah-bunda dalam 7 turunan dari masa yang lampai itu dapat keluar dari alam Setan-Kelaparan atau alam Samsara lain, dan mereka dapat dilahirkan di alam Manusia atau di alam Kebahagiaan, agar mereka dapat berbahagia selama-lamanya.”

“Lagi, jika para siswa-siswi Buddhis yang berhasrat ingin mengabdikan dirinya kepada leluhurnya serta kedua orangtua yang masih hidup atau pun yang sudah meninggal dunia, mereka seyogyanya senantiasa merenungkan kondisi kedua orangtua yang masih hidup atau yang sudah meninggal itu, apakah mereka hidup bahagia atau tidak. Bilamana keadaan para siswa-siswi Buddhis mengizinkan sebaiknya setiap tahun pada tanggal 15 bulan 7 (penaggalan Candrasangkala) mengadakan upacara Ulambana untuk berdana kepada Buddha dan Sangha, guna membalas budi kedua orangtuanya yang telah bersaja kepada anal-anaknya.”

“Demikianlah, semoga semua siswa-siswi Buddhis dapat menghayati Dharma yang sangat berarti ini.” Hyang Buddha mengakhiri khotbahnya. Pada saat itu, Bhiksu Maha Maudgalyayana beserta keempat kelompok siswa-siswi Buddha merasa bergembira setelah mendengarkan khotbah Hyang Buddha dan mereka bertekad menghayati Dharma-Nya. Kemudian mereka bersikap anjali dan menghormat kepada Hyang Sakyamuni Buddha, lalu pergi. 

( Sumber : Buku sumbangan para dermawan )

Sutra Tentang Bodhisattva Maitreya Menjadi Buddha


Sutra Tentang Bodhisattva Maitreya Menjadi Buddha



Di dalam suatu persamuan di Vihara Kebun Jetavana terdapat seorang Bodhisattva bernama Maitreya. Saat ia mendengar pengucapan Sang Buddha, Beliau langsung meperoleh ribuan Koti manta yang sangat praktis dari Buddha Sakyamuni. Kemudian Beliau bangkit dari tempat duduknya, merapikan jubahnya, merangkapkan kedua tangannya dengan sikap anjali berdiri disamping Sang Buddha.

Arya Upali menyembah Sang Buddha dengan dahi menyentuh lantai seraya berkata: “Oh. Lokanatha yang termulia, di dalam ingatan saya dahulu, Sang Buddha pernah berkotbah tentang Sang Ajita yang akan menjadi Buddha pada masa yang akan datang. Apakah hal ini benar? Seperti diketahui bahwa Sang Ajita masih beridentitas seorang manusia biasa, dimana masih banyak ikatan-ikatan duniawi yang dimilikinya yang belum bersih total, apakah Dia dapat dilahirkan di alam Buddha? Di alam manakah Dia akan lahir pada kehidupannya yang terakhir? Oh, Lokanatha yang termulia”.

“Baik sekali pertanyaan anda, Oh, Arya Upali,” sabda Sang Buddha Sakyamuni kepada Arya Upali: “Oh, Arya Upali ketahuilah bahwa kira-kira 12 tahun lagi mulai dari sekarang, Sang Arya Ajita akan dilahirkan di Surga Tusita setelah kehidupannya yang terakhir”.

Sang Budha Sakyamuni bersabda, “Tempat terbahagia di Surga Tusita khusus dianugerahkan kepada para umat yang pernah melaksanakan ‘Dasa Kusala Kamma’, yakni 10 perbuatan baik (1. Tidak membunuh; 2. Tidak mencuri; 3. Tidak berbuat asusila; 4. Tidak berdusta; 5. Tidak memfitnah; 6. Tidak berbicara kasar; 7. Tidak bicara kotor; 8. Tidak serakah; 9. Tidak membenci; 10. Tidak berpandangan keliru.)”.

Pada saat itu, Arya Upali bangkit dari tempat duduknya. Beliau merapikan jubahnya sambil memberi hormat kepada Sang Buddha Sakyamuni dengan dahi menyentuh lantai seraya berkata, “Oh, Lokanatha Yang Termulia, kapankah Sang Mahasattva Maitreya akan meninggalkan dunia Jambudvipa dan kemudian dilahirkan di Surga Tusita? Sudi kiranya diterangkan kepada kami sekalian.”

Sang Buddha bersabda kepada Sang Arya Upali, “Oh Arya Upali, tentang hari yang tepat adalah mulai dari sekarang menjelang 12 tahun lagi, pada tanggal 15 bulan 2. Tatkala suatu peristiwa yang sangat hebat akan terjadi di rumah Maha Brahmana Pravari yang terletak di desa Kapali, di negeri Varanasi (Benares), tanah tumpah darah Sang Ajita. Pada saat itulah seorang Mahasattva bernama Maitreya (Ajita) akan duduk bersila dan tengah melakukan Samadhi di ruangan rumah tersebut. Saat itu seluruh badannya berwarna keemasan. Sinarnya amat terang seperti ratusan ribu sinar matahari. Terus memancar hingga ke Surga Tusita, pada saat inilah Sang Ajita meninggalkan Jambudvipa. Saat itu jenazahnya masih duduk bersila, tetap teguh, persis seperti Buddha rupang yang terbuat dari emas dan memiliki sinar berbentuk lingkaran di kepala-Nya. Di dalam lingkaran terdapat aksara Sansekerta yaitu: ‘Surangama Samadhi Nirdisa Prajna Paramita’ yang amat nyata dan terang. Sejak itu, desa Kapali sering dikunjungi umat manusia aupun Dwata. Mereka dengan khidmat mendirikan stupa Mestika untuk memelihara dan memuja Sarira-Nya.

“Oh, Arya Upali, pada saat yang sama di dalam istana Surga Tusita, seorang suci lahir di dalam sekuntum bunga teratai besar. Ketika Ia lahir, Ia telah duduk bersila ditengah mahkota bunganyadan seluruh badannya berwarna keemasan seperti emas Jambunada. Tingginya 16 Yojana. Badan-Nya telah memiliki “Dvantrimsa Maha Purusa Laksana’, yakni 32 tanda fisik agung, juga dilengkapi 80 jenis tanda bagus. Kemudian segumpal Unisha juga menonjol di puncak kepala-Nya. Warna rambut-Nyapun seperti Lazurdi, kebiru-biruan, Sebuah mahkota Surga penuh permata ‘Sakrabhilagna-Mani-Ratna’ serta ratusan ribu koti permata “Kimsuka’ terpasang di kepala-Nya.”

Sang Buddha melanjutkan Sabdanya, “Oh Arya Upali, ketahuilah bahwa sejak itu Bodhisattva-Mahasattva Maitreya 3 kali di siang hari dan 3 kali di malam hari bersama-sama dengan para putra-putri Dewata yang duduk di atas tahta bunga masing-masing, menguraikan atau menganalisa tentang pelaksanaan “Avinivartaniya Dharma Cakra’ kepada para pengikutnya. Setelah pelajaran Dharma yang diajarkan Beliau itu genap satu periode, terdapat 500 koti siswa dari putra-putri Dewata itu yang tamat dari Dharma Avinivartaniya berasal dari Anuttara Samyak Sambodhi. Maka dari itu, sejak Beliau dilahirkan di Surga Tusita, tidak ada hari tanpa mengajar dengan maksud agar dapa menyebar Buddha Dharma ke berbagai Surga guna menyelamatkan para putra-putri Dewata bebas dari belenggu Surgawi, kemudian semua dilahirkan di negeri Buddha.

Sang Buddha melanjutkan SabdaNya, “Oh Arya Upali, tahukah anda bahwa setelah usia Sang Maitreya genap berusia 56 koti laksa tahun menurut penanggalan Jambudvipa, Beliau akan meninggalkan Surga Tusita dan kemudian di lahirkan di dunia Sahaloka yang dihuni oleh manusia dan makhluk-makhluk lain ini.”

Setelah Sang Buddha Sakyamuni mengkhotbahkan sutra ini, terdapat 100 ribu Bodhisattva yang datang dari berbagai dunia. Semua memperoleh ‘Surangama Samadhi’, 80 ribu koti para Dewata yang datang dari berbagai Surga dan semua dapat membangkitkan Bodhicittanya dan bertekad dilahirkan didunia Jambudvipa menjadi pengikut Sang Maitreya pada masa mendatang.

Pada saat itu, para siswa siswi Buddha Sakyamuni yang berasal dari keempat kelompok, para Dewa, Naga dan sebagainya bergembira mendengarkannya. Kemudian mereka bersikap anjali menghormati Sang Bhagava, lalu pergi.
( Sumber : Kalyanadhammo.net ; Tipitaka )

PRAJNA PARAMITA HRDAYA SUTRA ( SUTRA HATI )

PRAJNA PARAMITA HRDAYA SUTRA
( SUTRA HATI )


ARYAVALOKITESVARO BODHISATTVO GAMBHIRAYAM PRAJNA-PARAMITAYAM CARYAM CARAMANO
VYAVALOKAYATI SMA: PANCA SKANDHAS TAMS CA SVABHAVA SUNYAN PASYATI SMA'
IHA SARIPUTRA!
RUPAM SUNYATA,SUNYATAIVA RUPAM.
RUPAM NA PRTHAK SUNYATA, SUNYATAYA NA PRTHAG RUPAM.
YAD RUPAM SA SUNYATA, YA SUNYATA TAD RUPAM.
EVAM EVA VEDANA - SAMJNA - SAMSKARA - VIJNANANI.
IHA SARIPUTRA!
SARVA-DHARMAH SUNYATA-LAKSANA, ANUTPANNA-ANIRUDDHA AMALAVIMALANONA NA PARIPURNAH.
TASMAC CHARIPUTRA!
SUNYATAYAM NA RUPAM NA VEDANA NA SAMJNA NA SAMSKARA NA VIJNANAM.
NA CAKSUH - SROTRA - GHRANA -JIHVA - KAYA - MANAMSI.
NA RUPA - SABDA - GANDHA - RASA - SPARASTAVYA - DHARMAH.
NA VIDYA NAVIDYA NA VIDYA - KASAYO NAVIDYA - KSAYO YAVAN NA JARA - MARANAM NA JARA - MARANA - KSAYO NA DUHKHA - SAMUDAYA - NIRODHA - MARGA, NA JNANAM NA PRAPTIH ( NA BHISAMA).
TASMAD APRAPTITVAD BODHISATTVANAM PRAJNAPARAMITAM ASRITYA
VIHARATY ACITTAVARANAH, CITTAVARANA - NASTITVAD ATRASTO VIPARYASATIKRANTO NISTHA - NIRVANAH.
TRYADHVA - VYAVASTHITAH SARVA - BUDDHAH PRAJNA - PARAMITAM ASRITYA - NUTTARAM SAMYAKSAMBODHIM ABHISAMBUDDHAH.
TASMAJ JNATAVYAM PRAJNA PARAMITA MAHA MAN TRO MAHA VIDYA MANTRO'NUTTARA MANTRO'SAMA SAMA MANTRAH!
SARVADUHKHA PRASAMANAH, SATYAM AMITHYATVAT PRAJNA PARAMITAYAM UKTO MANTRAH.
TADYATHA: GATE GATE PARAGATE PARA SAMGATE, BODHI SVAHA!

 
Terjemahannya:

Sang Bodhisattva Avalokitesvara sedang bersamadhi, merenungkan Prajnaparamita yang dalam dan luhur. Beliau memandang dari atas ke bawah; tertampaklah, bahwa panca skandha (lima kelompok kehidupan) itu sebenarnya kosong. 

Duhai Sariputra, rupa (bentuk jasmani) adalah kekosongan (sunyata) dan sunyata itu rupa; sunyata tidak berbeda dari rupa, rupa juga tidak berbeda dari sunyata; rupa apapun juga, itulah sunyata; sunyata apapun juga, itulah rupa. Ini pun berlaku bagi vedana (perasaan), samjna (pencerapan), samskara (bentuk-bentuk mental), dan Vijnana (kesadaran).

Disinilah, duhai Sariputra, segala sesuatu (dharma) bercorak sunyata; mereka tak muncul, juga tak berakhir; tidak kotor. juga tidak murni bersih, tidak kurang, tidak lengkap/bertambah.

Maka itu, duhai Sariputra, dimana terdapat sunyata, di situ tiada rupa, tiada vedana, tiada samjna, tiada samskara, tiada vijnana; tiada mata, telinga, hidung, lidah, badan, dan bathin; tiada bentuk-bentuk suara-suara, bau-bauan, rasa-rasa, sentuhan-sentuhan, bentuk-bentuk pikiran; tiada unsur (dhatu) penglihatan dan selanjutnya, hingga kita tiba pada tiada unsur kesadaran (vijnana-dhatu); tiada kegelapan bathin (avidya), tiada akhir kegelapan bathin dan seterusnya, hingga kita sampai pada tiada hari tua dan kematian, tiada akhir hari tua dan kematian; tiada derita (dukha), tiada asal mula derita (dukkha-samudaya), tiada akhir derita (dukha-nirodha), tiada jalan (marga), tiada pengetahuan (jhana), tiada pencapaian dna tiada bukan pencapaian. 

Maka, duhai Sariputra, berkat kebebasan dari keuntungan pribadi apapun juga, seorang Bodhisattva yakin akan prajnaparamita (kesempurnaan kebijaksanaan luhur). Ia bebas dari segala rintangan. karena bebas dari segala rintangan, Ia bebas dari perasaan takut dan dengan mengatasi sumber-sumber kegelisahan akhirnya Ia mencapai Nirvana.

Para Buddha dari tiga jaman (lampau, mendatang, dan sekarang) mencapai Anuttara Samyak-Sambodhi karena mereka telah yakin akan Prajnaparamita. Maka itu orang harus mengetahui bahwa Prajnaparamita adalah Maha Mantra, Mantra yang Maha Gemilang, Mantra yang Maha Agung, Mantra yang tak ada bandinagnnya! Dan dapat melenyapkan segala macam penderitaan. Sungguh demikian, tiada kekliruan sedikitpun. Oleh karena itu Beliau senang menerangkan Mantra Prajnaparamita serta berkata :

"Gate gate paragate para-samgate Bodhi svaha!"
( Lewat, lewat, lewat ke Pantai Seberang, tiba di Pantai Seberang, Kesadaran Agung, semoga demikian!)


Keterangan:
Prajnaparamita Hrdaya Sutra ( Sutra Hati ) dalam bahasa Tionghoa disebut Poandjiak Pooloobit Too Sim Keng. Naskah dalam bahasa Sansekerta diatas ditemukan di Gua Batu Dun Huang, Tiongkok. Bersama dengan Vajracchedika Sutra ( Sutra Intan ), Prajanparamita Hrdaya Sutra merupakan kitab-kitab yang dianggap keramat oleh umat Buddha Aliran Utara. Kedua Sutra ini berdasarkan Ajaran Sunyata, ialah kelanjuatn doktrin Anicca-Anatta dari Aliran Selatan. Isinya memang "berat" tetapi sangat berfaedah bagi para pencari kesunyataan. Karena sangat dalam dan halus, maka untuk mengertinya diperlukan pembacaan yang teliti dan cermat.

Makna dari Prajnaparamita Mantra adalah:

Lewat, lewat = lepaskanlah, jangan melekat pada apapun juga. Dengan demikian dicapai Pantai Seberang (NIrvana) mencapai Bodhi (kesadaran Agung) berarti mencapai pembebasan
( Sumber : Buku Avalokitesvara-Puja ; 1986 )

Sutra tentang Amitabha Buddha dan Surga Barat

Amitabha Sutra
Demikianlah yang telah kudengar : Pada suatu saat Hyang Buddha berdiam di Sravasti pertapaan Jeta Taman Anthapindika bersama serombongan Bhiksu yang berjumlah seribu dua ratus lima puluh yang semuanya Arahat yang di kenal oleh semua orang seperti Sesepuh Sariputra : Mahamaudgalyayana, Mahakasyapa, Mahakatyayana, Mahakausthila, Revata, Suddhipanthaka, Nanda, Ananda, Rahula, Gavampati, Pindolabharadvaja, Kalodayin, Mahakaphina, Vakkula, Aniruddha, dan beserta Siswa-siswa terkemuka lainnya ; dan para Bodhisattva Mahasattva, Manjusri Pangeran Dharma, Ajita Bodhisattva, Gandhastin Bodhisattva, Nityodyukta Bodhisattva, dengan para Bodhisattva Mahasattva lainnya ; dan dengan Sakra, Indra atau Raja para dewata yang tak terhingga jumlahnya.

Pada saat itu Hyang Buddha bersabda kepada sesepuh Sariputra : Sebelah Barat dari sini melewati ratusan ribu Koti negeri Buddha, terdapat sebuah alam yang bernama Sukhavati. Ada seseorang Tathagata yang bernama Amitabha. Kini beliau tengah mengajarkan Dharma.

Sariputra, apakah sebabnya alam itu disebut Sukhavati ?

Karena di alam Sukhavati tiada lagi penderitaan bagi makhluk-makhluk yang hidup di sana ! Sumber kebahagiaan tak terhingga banyaknya, oleh sebab itu disebut Sorga Sukhavati. Dan lagi, oh, Sariputra ! Di Sorga Sukhavati terdapat tujuh tingkat Veranda dengan tujuh tirai rajutan, tujuh baris jajaran pohon, semua terbentuk dari empat macam mustika. Karenanya negeri itu disebut kebahagiaan sempurna. Lagi pula Sariputra, di alam Sukhavati terdapat tujuh kolam permata berisi air yang memiliki delapan sifat kebaikan. Dasar kolam penuh dengan hamparan pasir emas, keempat sisinya terdapat tangga yang terbuat dari : emas, perak, batu lazuardi dan batu kristal, di atas terdapat pagoda-pagoda yang terhias emas, perak, beryl, kristal, Musaragarbha batu-batu akik, indung mutiara. 

Di kolam-kolam terdapat bunga teratai sebesar roda pedati, berwarna hijau dengan kemilau hijaunya, berwarna kuning dengan kemilau kuningnya, berwarna merah dengan kemilau merahnya dan berwarna putih dengan kemilau putihnya, lembut, menakjubkan, indah dan murni. O Sariputra, demikianlah negeri Buddha itu dihiasi dengan pahala dan kebajikan yang indah, megah dan agung, lagipula Sariputra, di negeri Buddha ini senantiasa terdengar musik surgawi dan tanahnya kuning emas. Dalam enam periode sehari semalam, turun hujan bunga-bunga Mandrawa. Tiap makhluk di negeri ini, sepanjang pagi yang cerah dengan jubahnya mengumpulkan bunga dan mempersembahkannya kepada beratus ribu koti Buddha dari penjuru lain. Pada waktu makan mereka kembali ke negeri mereka masing-masing, dan usai makan mereka istirahat. O Sariputra, di negeri kebahagiaan sempurna. 

Dengan pahala dan kebajikan terhias indah, megah dan agung. Lagipula Sariputra, di negeri ini selalu ada burung-burung beraneka warna nan indah dan langka, burung seriap putih, merak, kakaktua, bangau putih kecil, kalavinka dan burung berkepala dua. Kumpulan burung ini bernyanyi dalam enam periode sehari semalam dengan suara merdu dan harmonis. Suara mereka yang jernih dan riang membabarkan lima akar kebajikan. , tujuh bagian bodhi, delapan jalan suci dan Dharma-dharma lain. Bila makhluk di negeri itu, mendengar suara-suara ini mereka bersama-sama ingat akan Buddha, ingat akan Dharma dan ingat akan Sangha.

O, Sariputra , janganlah mengira bahwa burung-burung ini lahir akibar pelanggaran karma mereka karena alasan apakah? Di negeri ini tidak ada tiga jenis kelahiran sesat. O, Sariputra di negeri Buddha ini bahkan nama-nama tiga jenis kelahiran sesat tidak ada.

Bagaimana sebenarnya ?

Kumpulan burung ini semuanya diciptakan melalui penjelmaan oleh Amitabha Buddha agar suara Dharma tersiar luas. O, Sariputra , di negeri Buddha itu, ketika semilir angin berhembus, barisan pohon-pohon permata dan tirai-tirai permata menimbulkan suara-suara lembut dan indah. Laksana seratus ribu jenis musik dialunkan pada saat yang sama. Mereka yang mendengar suara ini dengan sendirinya ingat akan Buddha, ingat akan Dharma, ingat akan Sangha. O, Sariputra, negeri Buddha itu dihiasi dengan pahala dan kebajikan terhias indah, megah dan agung.

O, Sariputra apa yang kau pikirkan? Mengapa Buddha ini disebut Amitabha?

O Sariputra, kemilau cahaya Buddha ini tak terhingga menerangi sepuluh penjuru dunia tanpa halangan. Oleh karenanya disebut Amitabha lagipula O Sariputra, kehidupan Buddha ini dan rakyatnya mencapai kalpa Asankhyeya, tiada terbatas tiada terhingga. Oleh karenanya disebut Amitabha. O Sariputra sejak Amitabha mencapai tingkat kebuddhaan sepuluh kalpa telah berlalu. 



Lagipula Sariputra, Buddha ini mempunyai siswa-siswa pendengar suara tak terhingga, tak terbatas. Semua arahat, jumlah mereka tak dapat dihitung demikian pula kumpulan Bodhisattva. O Sariputra, demikinlah adanya negeri kebahagiaan sempurna dengan pahala dan kebajikan terhias, megah dan agung. Lagipula Sariputra, di negeri kebahagiaan sempurna makhluk hidup yang lahir semuanya Avaivartika. Di antara mereka banyak yang dalam kehidupan ini mencapai tingkat kebuddhaan, jumlah mereka sangatlah banyak tidak dapat dihitung dan hanya dapat disebut Kalpa Asankhyeya. Yang tiada terbatas, tiada terhingga.

O, Sariputra mahluk hidup yang mendengar ini seyogyanya berikrar agar dilahirkan dinegeri itu, mengapa demikian ?

Agar mereka yang berhasil adalah orang yang suci dan saleh semua berkumpul bersama-sama di satu tempat. O, Sariputra seorang tidak boleh kurang dalam perbuatan-perbuatan baik, berkah, kebajikan dan hubungan penyebab untuk mencapai kelahiran dinegeri itu. Sariputra, kalau ada seorang lelaki berbudi dan wanita berbudi, mendengar nama Amita Buddha danmemanjatkan nama itu baik selama satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari, lima hari, enam hari, tujuh hari, dengan sepenuh hati dan tanpa gangguan, bila orang itu mendekati akhir hayatnya, Amita Buddha berserta para orang suci akan muncul dihadapannya. Ketika akhir hayatnya tiba hatinya tidak goyah, ia akan terlahir di negeri kebahagiaan sempurna Amitabha Buddha Sariputra, karena aku melihat manfaatnya maka ku-ucapkan kata-kata itu. 

Jika mahluk hidup mendengar ucapan ini, mereka seharusnya berikrar untuk lahir di negeri itu.

O Sariputra, sebagaimana aku sekarang memuji manfaat yang tak terkira dari jasa dan kebajikan Amitabha Buddha, demikian juga ditimur ada Aksobhya Buddha, Merudhvaja Buddha, Mahameru Buddha, Meruprabhasa Buddha, Sughosa Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga. Di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi Trisuhhasra Mahasahasra loka datu dengan kata-kata tulus dan nyata. Semua mahluk hidup patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa dan kebajikan yang tak terkira dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.


O Sariputra, di dunia sebelah selatan ada Chandrasuryapradipa Buddha, Yasahprabha Buddha, Maharciskamdha Buddha, Merupradipa Buddha, Arantavirya Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negeri-Nya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi trisuhasra mahasahasra loka datu dengan kata tulus dan nyata semua mahluk hidup, patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh khidmat akan jasa kebajikan yang tak terkira dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.


O Sariputra di dunia sebelah Barat, ada Amitayus Buddha, Amitaskhamdha Buddha, Amitadhavaja Buddha, Mahaprabha Buddha, Maharasmiprabha Buddha, Maharatnaketu Buddha, Suddharasmi Buddha dan Buddha-Buddha lainnya, yang tak terhingga seperti pasir-pasir di sungai Gangga dinegerinya masing-masing, mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang. Menutupi trisuhasra mahasahasra loka datu, dengan kata tulus dan nyata semua makhluk hidup patut percaya memuji dan mengingat dengan teguh, khidmat akan jasa kebajikan tak terkirakan dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.


O Sariputra didunia sebelah utara ada Maharciskamdha Buddha, Dumdubhisvaranirghosa Buddha, Duspradharsa Buddha, Adityasambhava Buddha, Jalemiprabha Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tidak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi Trisuhasra mahasahasra loka datu dengan kata-kata tulus dan nyata. Semua mahluk hidup patut percaya memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa kebajikan tak terkira dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini, Sariputra di dunia sebelah bawah (nadir ) ada Simha Buddha, Yasas Buddha , Yasahprabha Buddha, Dharma Nuddha , Dharmadhvaja Buddha, Dharmadhara Buddha dan Buddha-Buddha liannya yang tidak terhingga seperti butiran pasir di sungai Gangga di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah yang maha luas dan panjang menutupi trisuhasra mahasahasra loka datu dengan kata kata tulus dan nyata semua makhluk hidup patut percaya memuji dan mengingat dengan teguh, akan jasa kebajikan tak terkirakan dari sutra yang di karuniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini di dunia sebelah atas (zenit) ada Brahmaghosa Buddha, Naksatraraja Buddha, Gamdhottama Buddha, Gamdhaprabhasa Buddha, Maharciskamdha Buddha, Ratnakusumasampuspitagatra Buddha, Sa lendraraja Buddha, Ratnotpalasri Buddha, Sarvarthadarsa Buddha, Sumerukalpa Buddha dan Buddha-Buddha lainnya yang tak terbilang seperti butiran pasir. Di sungai Gangga, di negerinya masing-masing mengemukakan penampilan lidah maha luas dan panjang menutupi trisuhasra Mahasahasra loka datu. Dengan kata-kata tulus dan nyata, semua makhluk hidup patut percaya, memuji dan mengingat dengan teguh akan jasa kebaikan tak terkirakan dari sutra yang dikaruniai dan dilindungi oleh semua Buddha ini.

O Sariputra, Apa yang kau pikirkan ? Mengapa sutra ini disebut sutra yang dikaruniai dan dilindungi semua Buddha ?

O Sariputra, kalau seorang lelaki berbudi atau wanita berbudi mendengar sutra ini dan mengucapkannya serta mendengar nama-nama semua Buddha ini. Lelaki berbudi atau wanita berbudi ini akan menjadi orang yang ingat akan Buddha dan dilindungi oleh semua Buddha dan tidak akan gagal mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Sebab itu Sariputra, kalian semua patut percaya dan menerima kata-kataku dan ucapan semua Buddha. Sariputra, kalau ada orang yang telah berikrar yang sedang berikrar atau yang akan berikrar: "Aku berhasrat lahir si negeri Amitabha". Orang-orang ini semua tidak akan gagalmencapai Annutara Samyak Sambodhi. Apakah dia lahir pada masa lampau, sekarang atau pada masa yang akan datang. Sebab itu Sariputra semua laki-laki berbudi dan wanita berbudi. Jika mereka orang-orang yang memilik keyakinan, seyogyanya berikrar untuk lahir di negeri ini. 


O Sariputra sebagaimana Aku memuji jasa dan kebaikan semua Buddha, semua Buddha juga memuji jasa dan kebajikanKu yang tak terkirakan, dengan mengucapkan kata-kata : "Sakyamuni Buddha dapat melasanakan secara luar biasa perbuatan-perbuatan sulit di dunia saha, dikurun kejahatan dari lima kekeruhan diantara kekeruhan kalpa, kekeruhan pandangan, kekeruhan penderitaan, kekeruhan makhluk hidup dan kekeruhan kehidupan. Ia dapat mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Demi makhluk hidup, membabarkan Dharma. Ini yang diseluruh dunia sulit dipercaya, Sariputra. Kamu seharusnya mengerti bahwa Aku, dikurun kejahatan dari lima kekeruhan mempraktekkan perbuatan yang sulit ini, mencapai Annuttara Samyak Sambodhi. Demi semua dunia kuucapkan Dharma yang sulit dipercaya ini, benar-benar sulit untuk dipercaya."

Setelah Hyang Buddha mengucapkan sutra ini, Sariputra dan semua Bhiksu, semua dewa manusia dan para Asura dan yang lain-lain dari dunia, mendengar apa yang telah Hyang Buddha sabdakan menyambut dengan sukacita, menyembah dengan sujud dan mohon diri.

( Sumber : Kitab Suci Amitabha Sutra )

Sutra Tentang Karma

SUTRA KARMA
SUTRA TENTANG PERBUATAN




Sutra ini merupakan salah satu ajaran Hyang Buddha yang menerangkan tentang hukum karma, tentang sebab musabab semua perbuatan kita yang berlaku, baik dulu, sekarang maupun yang akan datang di dalam kehidupan kita masing-masing.

Ketika Hyang Buddha berada di kota Rajagaha, 1250 orang Arahat datang berkumpul bersma para mahkluk lainnya. Pertemuan para Arahat tersebut dinamakan Caturangasannipata, mereka berkumpul di Veluvanarama (Vihara Hutan Bambu) dan waktu itu tengah hari pada saat purnama-sidhi di bulan Magha. waktu itu, Yang Mulia Ananda datang mendekati Hyang Bhagava. ia memberi hormat dengan beranjali dan mengelilingi Hyang Buddha tiga kali (berpradaksina). Setelah memberi hormat ia dengan sopan duduk di satu sisi. kemudian Yang Mulia Ananda berkata kepada Hyang Bhagava :

"Guru, mengapa semua makhluk yang dilahirkan selalu dicengkeram oleh dukkha (derita) seperti lobha (keserakahan), dosa (kebencian), moha (ketidaktahuan), tidak menghormati Buddha Dhamma. tidak berbakti kepada orang tua, tidak bermoral, tidak menjalankan sila. Generasi ini menjadi kacau seperti benang kusut. rumput munja dan gelabah. sehingga tidak dapat terbebas dari apaya (alam neraka), duggati (alam binatang), vinipata (alam keruntuhan) dan samsara (lingkaran tumimbal lahir).

Banyak di antara mahkluk itu terlahir tuli, buta, bisu, idiot, cacat dan lainnya, saling bersaing, saling merugikan, saling memusuhi, saling membenci, saling membunuh, saling berbuat jahat dan tidak adil. Bagaimana kita dapat mengerti rahasia kesunyataan (sebab musabab) apa yang tersembunyi di balik kenyataan hidup ini. dan apakah akibat buruk dari setiap perbuatan jahat yang dilakukan oleh manusia ?

Semoga Guru berkenan menjelaskan kepada kami sebab musabab dari semua perbedaan-perbedaan ini yang menyebabkan timbulnya keragu-raguan terhadap keadilan dan kebenaran !".

"Ananda, perhatikan dengan baik, Aku akan menerangkan tentang Hukum Karma. sebenarnya, segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupan ini dikarenakan akibat dari karma lampau yang berbuah, yang diwariskan dari perbuatan pada kehidupan yang lampau, Karma lah yang menyebabkan perbedaan-perbedaan dalam alam kehidupan ini, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang bahagia, ada yang menderita, ada yang sempurna, ada yang cacat, ada yang dipuji dan ada yang terhina.

Kemudian Hyang Bhagava melanjutkan dengan mengucapkan syair di bawah ini :
"Segala sesuatu sudah ditentukan oleh karma lampau. percaya dan tekun mengamalkan Sutra ini akan membawa kebahagiaan dan keberhasilan yang tiada taranya.

O, para bhikkhu, Aku akan membuat syair contoh untukmu. karena dengan contoh maka orang-orang pintar akan dapat mengerti makna dari apa yang dikatakan.

Membangun Vihara, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membangun vihara" membuat ia mendapat kedudukan terhormat (tinggi) 

Membangun jalan dan jembatan, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membangun jalan dan jembatan" membuat ia mendapat keselamatan dalam perjalanan serta memiliki kendaraan yang bagus

Berdana jubah, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memberi jubah untuk bhikku" membuat ia memiliki cukup sandang serta berpakaian bagus

Berdana makanan dan minuman, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memberi makanan dan minuman untuk orang miskin" membuat ia kaya

Berdana untuk Bhikkhu, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memberi untuk keperluan Bhikkhu" membuat ia memiliki rumah mewah

Kikir dan tidak mau berdana, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "kikir dan tidak mau berdana" membuat ia miskin

Membangun sekolah dan rumah sakit, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membangun sekolah dan rumah sakit" membuat ia hidup sukses dan bahagia

Memuja Hyang Buddha, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memuja Hyang Buddha dengan bunga" membuat ia memiliki wajah yang rupawan

Tekun membaca paritta dan melaksanakan Sila, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "tekun membaca paritta dan melaksanakan sila" membuat ia cerdas dan bijaksana

Membabarkan Dharma, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "meyebarkan Dharma dalam Dharmasala" membuat ia mendapatkan isteri yang cantik dan berbudi.

Menghias Altar, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menghias altar Hyang Buddha dengan macam-macam dekorasi, hiasan yang bagus dan pantas" membuat ia sukses dalam perkawinan

Menolong orang sebatang kara, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam Brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menghormati dan menolong orang sebatang kara" membuat ia memiliki orang tua yang baik 

Membunuh makhluk hidup, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membunuh makhluk hidup" membuat ia pendek umur 

Mencuri, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "mengambil barang milik orang lain" membuat ia kehilangan barang-barangnya

Berzinah, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "melakukan hubungan seks yang tidak diperkenankan" membuat ia dimusuhi lingkungannya.

Berdusta, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berdusta" membuat ia sering mendapat tuduhan palsu 

Bergossip, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "sering menceritakan keburukan orang lain" membuat ia ditingggalkan oleh kawan-kawannya

Berkata kasar, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berkata kasar" membuat ia sering menerima kata-kata yang tidak menyenangkan

Mengobrol kosong , O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "mengobrol kosong" membuat ia tidak dapat berbicara dengan jelas

Berburu, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berburu binatang" membuat ia menjadi yatim piatu

Melepas Binatang, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membebaskan binatang yang tertangkap orang" membuat ia memiliki anak yang sukses

Menolong hidup makhluk lain, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menyelamatkan nyawa makhluk lain" membuat ia panjang umur dan bahagia

Merusak lingkungan, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "merusak hutan, tanaman, tumbuhan bunga" membuat ia tidak mempunyai keturunan

Memperkosa, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memperkosa anak, isteri orang lain" membuat ia hidup sengsara dan kesepian

Meniup lilin altar, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "tidak mengenal rasa hormat dan dengan sengaja meniup lilin atau lampu altar Hyang Buddha" membuat mulutnya menjadi cacat

Menghina suami, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menghina dan memukul suami" membuat ia menjadi janda

Lupa Budi, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "melupakan budi dan jasa orang lain" membuat ia menjadi budak (kuli)

Menyeleweng, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menyeleweng dengan istri atau suami orang lain" membuat ia hidup kesepian

Menyesatkan orang, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menyesatkan orang dengan bacaan porno" membuat matanya jadi buta

Berdana minyak lampu, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berdana minyak lampu untuk altar Hyang Buddha" membuat ia dikaruniai mata yang indah dan terang

Mencaci maki orang tua, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "mencaci maki orang tua " membuat ia menjadi bisu dan tuli

Memukul orang tua, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memukul orang tua" membuat tangannya cacat

Menertawakan siswa Hyang Buddha, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menertawakan siswa Hyang Buddha dan tidak menghormati Buddha Dharma" membuat punggungnya bongkok

Menodong dan merampok, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menodong dan merampok" membuat ia berkaki cacat

Tidak membayar hutang, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "tidak membayar hutang" membuat ia terlahir kembali menjadi kerbau atau kuda

Menipu, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menipu dan mencelakakan orang lain" membuat ia terlahir kembali menjadi babi atau anjing

Berbuat kejam dan sadis, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berbuat kejam dan sadis" membuat ia hidup lama di penjara

Meracuni makhluk lain, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "meracuni makhluk lain" membuat ia mati keracunan

Menolong orang sakit, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke sorga, ke alam dewa, atau ke alam brahma. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memberi obat menolong orang sakit atau luka" membuat ia selalu sehat

Memfitnah, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memfitnah dan mengadu domba" membuat ia muntah darah

Tidak setia, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "tidak setia dan berkhianat" membuat ia hidup sengsara dan menyedihkan

Minum minuman keras, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "minum-minuman keras" membuat ia mabuk, ketagihan dan tidak dihormati orang

Membuat makhluk lain mati kelaparan, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "membuat makhluk lain mati kelaparan" membuat ia menjadi mati kelaparan

Menghina orang miskin, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menghina orang miskin" membuat ia berbadan cebol dan jelek

Mendengarkan Dharma dengan kurang perhatian, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "mendengarkan Dharma dengan kurang perhatian" membuat ia menjadi tuli

Menyiksa binatang, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menyiksa binatang" membuat badannya korengan dan bisulan

Iri hati, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "iri hati dan cemburu akan kesuksesan dan kebahagiaan orang lain" membuat ia kesepian, bau busuk dan korengan

Sumpah palsu, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "sumpah palsu" membuat ia mati disambar geledek, petir atau api.

Memuja Hyang Buddha dengan daging, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "memuja Hyang Buddha dengan daging" membuat ia menderita penyakit kulit

Berdagang dengan tidak jujur, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berdagang dengan tidak jujur" membuat ia menderita penyakit korengan

Berburu dengan tali atau jala, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "berburu binatang dengan tali atau jala " membuat ia mati tergantung

Bermusuhan, benci dan dendam, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "bermusuhan, benci dan dendam" membuat ia mati digigit binatang (jelmaan dari musuhnya)

Menggugurkan kandungan, O bhikkhu, menganjurkan, melakukan sendiri, dan sering diperbuat, akan membawa orang ke neraka, ke alam binatang, atau ke setan. Bahkan sekurang-kurangnya, akibat dari "menggugurkan kandungan" membuat ia tidak dapat melahirkan

Apapun yang kita lakukan akan kembali kepada kita, jadi terimalah segala pahala maupun pembalasan terhadap diri kita. jangan mengira kejahatan yang kita lakukan tidak akan ada akibatnya. akan terbukti dan dialami sendiri dalam kehidupan ini atau kehidupan mendatang.

Kalau tidak percaya berkah dari melaksanakan Buddha-Dharma. lihatlah kebahagiaan yang dinikmati oleh para siswa Sang Buddha. Karma kehidupan lalu menentukan pahala kehidupan sekarang. Karma kehidupan sekarang akan menentukan kehidupan mendatang.

Bagi orang yang tidak percaya ajaran Karma, akan jatuh terlahir di alam-alam rendah.
Bagi orang yang menghayati dan mengamalkan ajaran Dhamma ini, akan terlahir di alam-alam sorga.
Bagi orang yang menyebarluaskan Sutta ini, akan menjadi maju dan jaya.
Bagi orang yang mencetak Sutta ini, Kehidupannya akan sukses dan dihormati.
Bagi orang yang menyimpan Sutta ini, akan terlindung dari malapetaka.
Bagi orang yang mengkhotbahkan ajaran Dharma ini, dalam kehidupannya akan sukses dan cerdas.
Bagi orang yang membacakan Sutta ini kepada orang lain, akan dihormati dan dicintai orang banyak.

Jika karma tidak berakibat, mengapa Bhikkhu Moggallana bertekad menolong ibunya dari penderitaan alam neraka ?

"Begitulah Ananda, bila engkau ditanya : "Apakah umur pendek karena suatu sebab tertentu ?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan : "Apakah sebab umur pendek itu ?", Engkau harus menjawab :"Membunuh makhluk hidup, kejam dan gemar memukul dan membunuh, tanpa mempunyai rasa kasihan kepada makhluk hidup adalah sebab umur pendek. Orang yang melakukan dan melaksanakan perbuatan ini, ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, maka umurnya akan pendek."

"Ananda, bila engkau ditanya : "Apakah menderita banyak penyakit karena suatu sebab tertentu ?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan : "Apakah sebab menderita banyak penyakit itu ?", Engkau harus menjawab :"Menyakiti makhluk lain dengan menggunakan tinju, batu, tongkat atau senjata, gembira melihat makhluk lain menderita adalah sebab menderita banyak penyakit. Orang yang melakukan dan melaksanakan perbuatan ini, ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia akan menderita banyak penyakit."

"Ananda, bila engkau ditanya : "Apakah rupa buruk karena suatu sebab tertentu ?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan : "Apakah sebab rupa buruk itu ?", Engkau harus menjawab :"Cepat marah, lekas naik darah; untuk hal kecil saja yang diceritakan padanya ia sudah menjadi murka, marah, berkeras kepala, memperlihatkan kegusarannya, kebenciannya dan kecurigaannya adalah sebab rupa buruk. Orang yang melakukan dan melaksanakan perbuatan ini, ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia akan mempunyai rupa yang buruk."

"Ananda, bila engkau ditanya : "Apakah mempunyai wibawa/pengaruh sedikit sekali karena suatu sebab tertentu ?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan : "Apakah sebab mempunyai pengaruh sedikit sekali itu ?", Engkau harus menjawab :"Iri hati, penuh rasa dengki dan benci, mengiri kalau orang menerima hadiah, diberi tempat menginap, penghargaan, penghormatan, dimuliakan, dan diberi persembahan dengan sopan santun adalah sebab mempunyai pengaruh sedikit sekali. Orang yang melakukan dan melaksanakan perbuatan ini, ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia akan mempunyai pengaruh sedikit."

"Ananda, bila engkau ditanya : "Apakah miskin karena suatu sebab tertentu ?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan : "Apakah sebab miskin itu ?", Engkau harus menjawab :"Tak pernah memberikan makanan, minuman, jubah, pengangkutan, bunga, wangi-wangian, obat-obatan, tempat menginap, tempat tinggal. lampu dan sebagainya kepada bhikkhu dan pandita adalah sebab menjadi miskin. Orang yang tidak melakukan dan melaksanakan perbuatan ini, ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia akan menjadi orang miskin."

"Ananda, bila engkau ditanya : "Apakah orang menjadi rendah karena suatu sebab tertentu ?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan : "Apakah sebab orang rendah itu ?", Engkau harus menjawab :"tinggi hati dan penuh kesombongan, tak mau menghormat kepada orang yang patut dihormati, tak mau berdiri untuk siapa ia patut berdiri, tak mau memberi tempat duduk kepada yang patut diberi tempat duduk, tak memberi kamar kepada yang patut diberi kamar, tidak menjamu yang patut dijamu, tak memberi hormat dan penghargaan kepada yang patut diberi hormat dan penghargaan. dan juga tak memberikan persembahan kepada yang patut diberi persembahan adalah sebab menjadi orang rendah. Orang yang tidak melakukan dan melaksanakan perbuatan ini, ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia akan dilahirkan sebagai orang rendah."

"Ananda, bila engkau ditanya : "Apakah orang dungu karena suatu sebab tertentu ?", Engkau harus menjawab : "Ya". Dan tentang pertanyaan : "Apakah sebab orang dungu itu ?", Engkau harus menjawab :"Tak mengunjungi para bhikkhu dan menanyakan kepada mereka : apakah yang dimaksud dengan karma baik, Bhante ? Apakah yang dimaksud dengan karma tidak baik ? Apa yang tercela ? Apa yang terpuji ? apa yang harus dilakukan ? apa yang tidak harus dilakukan ? Perbuatan apakah yang dapat mengakibatkan celaka dan penderitaan untuk waktu yang lama ? Perbuatan mana yang dapat membawa berkah dan kebahagiaan untuk waktu yang lama?" adalah sebab menjadi orang dungu. Orang yang tidak melakukan dan melaksanakan perbuatan ini, ketika badan jasmaninya hancur setelah mati, akan terjatuh ke alam-alam rendah penuh kesedihan dan penderitaan, atau neraka. Atau, apabila ia dilahirkan kembali sebagai manusia, dimana saja ia akan bertumimbal lahir, ia akan dilahirkan sebagai orang dungu."

"Ananda, Pemilik dari perbuatan adalah makhluk, ia adalah ahli waris dari perbuatannya, perbuatannya adalah rahim dari mana ia lahir, kepada perbuatannya ia terikat, namun perbuatannya juga merupakan pelindungnya. Perbuatan apapun yang ia lakukan, baik atau buruk, ia juga kelak yang menjadi ahli warisnya. Terdapat orang yang gemar membunuh makhluk hidup, mengambil milik orang lain, melakukan perbuatan asusila dengan wanita; berbicara yang tidak benar, sering menggossip orang lain, menggunakan kata-kata kasar, suka ngobrol kosong, tamak, berhati kejam dan mengikuti pandangan yang keliru.

Dan ia terikat erat-erat kepada perbuatannya yang dilakukan dengan jasmani, ucapan atau pikiran. Dengan sembunyi-sembunyi ia melakukan perbuatan-perbuatan, mengucaokan kata-kata dan memikirkan sesuatu; dan sembunyi-sembunyi pula cara dan tujuannya.

Tetapi Aku katakan kepadamu : " Bagaimana tersembunyinyapun cara dan tujuannya, orang itu pasti akan menerima salah satu dari kedua akibat ini, yaitu siksaan dari neraka atau terlahir sebagai binatang yang merangkak." Demikianlah tumimbal lahir dari makhluk-makhluk : "Sesuai dengan Karmanya mereka akan bertumimbal lahir. Dan dalam tumimbal lahirnya itu mereka akan menerima akibat dari perbuatannya sendiri." Karena itu Aku menyatakan 

:"Pemilik dan ahli waris perbuatan adalah makhluk, perbuatannya adalah rahim dari mana ia lahir, kepada perbuatannya ia terikat, namun perbuatannya juga merupakan pelindungnya. perbuatan apapun yang ia lakukan, baik atau buruk, ia juga kelak yang menjadi ahli warisnya.

Perbuatanlah yang membuat manusia menjadi mulia dan rendah, kaya dan miskin, bahagia dan menderita."

Setelah membabarkan ajaran Karma kepada Ananda dan para Arahat, lalu Sang Bhagava menambahkan : "Contoh yang telah say berikan hanya sebanyak setetes air dibandingkan contoh yang belum diberikan sebanyak air yang ada di Sungai Gangga. " Kemudian sang Bhagava mengucapkan Ovada Patimokkha :

"Jangan berbuat kejahatan,
Perbanyaklah perbuatan baik,
sucikan hati dan pikiranmu,
Itulah Ajaran semua Buddha.
Kesabaran adalah cara bertapa yang paling baik,
Sang Buddha bersabda :
Nibbanalah yang tertinggi dari semuanya.
Beliau bukan Pertapa yang menindas orang lain.
Beliau bukan pula pertapa yang menyebabkan kesusahan orang lain.
Tidak menghina, tidak melukai,
Mengendalikan diri sesuai dengan tata tertib,
Makan secukupnya,
Hidup dengan menyepi,
Dan senantiasa berpikir luhur,
Itulah Ajaran semua Buddha.

Kemudian Yang Mulia Ananda berkata : "Pada generasi yang kacau ini, bayak manusia telah mengisi kehidupannya dengan perbuatan-perbuatanjahat dikarenakan ketidak-tahuan mereka akan ajaran dan Hukum Karma. Kami sangat senang dan gembira< Bhante. Dengan panjang lebar dan penuh cinta kasih Bhante telah menguraikan Dharma, menjelaskan bagaikan orang yang menegakkan kembali apa yang roboh, atau memperlihatkan apa yang tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau membawa lampu di waktu gelap gulita, sambil berkata, "Siapa yang punya mata, silahkan melihat."

Demikianlah Dharma telah dibabarkan Bhante dalm berbagai cara, dan Kami berjanji untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh Ajaran Karma mulai hari ini sampai akhir hayat nanti. Begitu mulianya Dharma ini sehingga bagi siapa saja yang menulis, membaca, mencetak, menyebarluaskan sutta ini, atau digunakan untuk memuja para Buddha, akan dianugerahi dengan kebahagiaan dan kesuksesan besar.Dan kelak nanti setelah meninggal akan terlahir bahagia di Buddha-Loka tempat para siswa Buddha bersemayam."
Setelah Ananda berkata demikian, para Arahat, para Bhikkhu, para Upasaka, para Dewa, para Asura, para Gandabha, para mahkluk halus lainnya menjadi gembira hatinya denagn kata-kata Sang Bhagava. Mereka berjanji untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh Ajaran Karma ini.

JIKA BERTANYA SEBAB KEHIDUPAN SEBELUMNYA
YAITU APA YANG DITERIMA PADA KEHIDUPAN INI
JIKA BERTANYA AKIBAT KEHIDUPAN MENDATANG
YAITU APA YANG DIPERBUAT PADA KEHIDUPAN INI

Jangan meremehkan kejahatan denagn mengatakan bahwa kejahatan yang kulakukan kecil sekali, tidak akan berakibat apa-apa kepadaku, tetapi sebenarnya ibarat air yang jatuh setetes demi setetes akhirnya dapat memenuhi sebuah gentong. Demikianlah orang yang dungu sedikit demi sedikit mengisi dirinya dengan kejahatan.

Tidak di langit, tidak di tengah samudera, juga tidak di dalam gua atau di puncak gunung; tidak ada suatu tempatpun di dunia ini yang dapat dipakai orang untuk menghindarkan diri dari akibat perbuatannya yang jahat.

Di alam ini ia menderita, juga di alam sana
Di kedua alam ini orang jahat menderita
Ia menderita karena diganggu oleh pikirannya
Ia akan lahir di neraka dicengkeram oleh derita

Jangan meremehkan kebajikan dengan mengatakan bahwa kebajikan yang kulakukan hanya sedikit, tak akan membawa pahala bagiku. Tetapi sebenarnya, ibarat air yang jatuh setetes demi setetes akhirnya orang yang bijaksana mengisi dirinya sedikit demi sedikit dengan kebajikan.

Di alam ini ia berbahagia, juga di alam sana
Di kedua alam ini orang yang baik hidup bahagia
Ia berbahagia dalam menikmati kebahagiaan
Ia menerima pahala dari perbuatannya yang baik

( Sumber : Buku sumbangan para dermawan )
 
Blogger Templates