Social Icons

Tuesday, June 28, 2016

Aganna Sutta

Demikian yang telah kami dengar : Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berdiam di Savatthi, di Pubbarama milik Migaramata. Pada waktu itu Vasettha dan Bharadvaja sedang menjalani latihan kebhikkhuan di antara para Bhikkhu, berkeinginan untuk menjadi bhikkhu. Kemudian pada malam hari itu, setelah bangkit dari samadhi-Nya, Sang Bhagava keluar dari kamar (kuti) dan berjalan ke sana ke mari (cankammana) di alam terbuka di sebelah kamar.

Hal ini dilihat oleh Vasettha dan menceritakannya kepada Bharadvaja, yang selanjutnya ia berkata : "Sahabat Bharadvaja, marilah kita pergi menemui Sang Bhagava; mudah-mudahan kita beruntung dapat mendengar uraian Dhamma dari Sang Bhagava."

"Baiklah, sahabat," jawab Bharadvaja menyetujui. Maka Vasettha dan Bharadvaja pergi menemui Sang Bhagava. Setelah dekat, mereka menghormat Beliau dan berjalan mengikuti di belakang Bhagava yang sedang berjalan ke sana ke mari (cankammana).

Kemudian sang Bhagava berkata kepada Vasettha: "Vasettha, engkau berasal dari keturunan dan keluarga brahmana, telah meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh hidup tanpa rumah (anagarika) sebagai pertapa (pabbaja). Apakah para brahmana tidak mencela dan menghinamu ?"

"Ya, demikianlah, Bhante; para brahmana menghina dan mencela kami dengan bermacam-macam makian, ejekan, serta kata-kata kasar yang tidak sopan."

"Bhante, para brahmana itu berkata demikian: 'Kasta brahmana adalah yang paling baik' "

"Tetapi dalam hal ini, Vasettha, dengan kata-kata apa para brahmana itu mencela dan menghinamu ?"

"Bhante, para brahmana itu berkata demikian: Hanya kaum brahmana yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat, yang lain berkedudukan rendah. Hanya kaum brahmana yang berwajah cerah, yang lain berwajah gelap. Hanya kaum brahmana yang berasal dari keturunan murni, bukan mereka yang lain daripada kaum brahmana. Hanya kaum brahmana yang merupakan anak dari Brahma, lahir dari mulut brahma, keturunan brahma, diciptakan oleh brahma, pewaris Brahma. Sedangkan mengenai dirimu, engkau telah meninggalkan derajad yang terbaik, beralih ke golongan rendah, yaitu pertapa gundul, badut yang kasar, mereka yang berkulit gelap, keturunan yang lahir dari kaki Brahma. Keadaan seperti itu tidak baik, keadaan seperti itu tidak pantas. Dalam hal ini, bahwasanya engkau yang telah meninggalkan kasta terhormat, harus bergaul, berkumpul dengan kasta rendah, yaitu: dengan kaum pertapa gundul, pertapa palsu, mereka yang berkulit gelap, kaum rendah, yang lahir dari kaki Brahma - warga kami. Dengan kata-kata seperti itu, Bhante, para brahmana itu mencela dan menghina kami dengan makian, ejekan serta kata-kata kasar yang tidak sopan."

"Vasettha, sesungguhnya para brahmana itu telah melupakan masa lampau apabila mereka berkata seperti itu. Sebaliknya, para brahmani, istri para brahmana itu dikenal subur, kelihatan hamil, melahirkan dan merawat anak-anak. Dan masih juga para brahmana yang lahir dari kandungan itu sendiri yang berkata bahwa : Hanya kaum brahmana yang mempunyai kedudukan tinggi dalam masyarakat, yang lain berkedudukan rendah. Hanya kaum brahmana yang berwajah cerah, yang lain berwajah gelap, Hanya kaum brahmana yang berasal dari keturunan murni, bukan mereka yang lain daripada kaum brahmana. Hanya kaum brahmana yang merupakan anak asli dari Brahma, lahir dari mulut Brahma, keturunan Brahma, diciptakan oleh Brahma, pewaris Brahma. Dengan cara ini mereka telah membuat tiruan terhadap sifat Brahma (abbhacikkhanti brahmanan). Apa yang mereka katakan itu bohong, dan sungguh besar akibat buruk yang akan mereka peroleh."

Vasettha, terdapat empat kasta : khattiya, brahmana, vessa dan sudda. Di sini dan di mana pun terdapat kasta khattiya yang membunuh, mencuri, berzinah, berbohong, memfitnah, berbicara kasar, omong kosong, serakah, kejam dan menganut pandangan-pandangan keliru (miccha ditthi).

Vasettha, demikianlah kita lihat bahwa sifat-sifat buruk dan yang dipandang demikian, yang tercela dan yang dipandang demikian, yang tidak layak dilakukan dan yang dipandang demikian, yang tidak patut dilakukan oleh orang yang terhormat dan yang dipandang demikian, sifat-sifat celaka dan yang berakibat mencelakakan, yang tidak dianjurkan oleh para bijaksana; terdapat pula dalam diri seorang khattiya. Dan begitu pula kita dapat mengatakan hal yang lama kepada kasta brahmana, vessa dan sudda.

Juga di sini dan di mana pun terdapat kasta khattiya yang menahan diri dari membunuh, mencuri, berzinah, berbohong, memfitnah, berbicara kasar, omong kosong serakah, kejam atau menganut pandangan-pandangan keliru (miccha ditthi).

Vasettha, demikianlah kita lihat bahwa sifat-sifat baik dan yang dipandang demikian, yang terpuji dan yang dipandang demikian, yang layak dilakukan dan yang dipandang demikian, yang patut dilakukan oleh orang terhormat dan yang dipandang demikian, sifat-sifat yang bermanfaat dan yang mempunyai akibat yang bermanfaat, yang dianjurkan oleh para bijaksana; terdapat pula dalam diri seorang kasta khattiya. Dan begitu pula kita dapat mengatakan hal yang sama kepada kasta brahmana, vessa dan sudda.

Vasettha, sekarang kita tahu bahwa sifat-sifat yang baik atau buruk, tercela atau terpuji oleh para bijaksana, adalah dimiliki oleh keempat kasta tersebut; dan para bijaksana tidak mengakui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh para brahmana seperti tersebut di atas. Mengapa demikian ? Karena, Vasettha, siapapun dari keempat kasta ini menjadi seorang bhikkhu, arahat, orang yang telah mengalahkan noda-noda batin (jinasavo), telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan (katakaraniyo), telah meletakkan beban (ohitabharo), telah mencapai kebebasan (anuppattasadattho), telah mematahkan ikatan kelahiran, telah terbebas karena memiliki pengetahuan (sammadannavimutto); maka dialah yang dinyatakan paling baik di antara mereka, berdasarkan kebenaran (dhamma) dan tidak atas dasar yang bukan kebenaran (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Vasettha, berikut ini adalah sebuah contoh untuk mengerti mengapa Dhamma (Kebenaran) itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang :

Raja Pasenadi Kosala menyadari bahwa Samana Gotama telah meninggalkan keturunan Sakya, sedangkan Suku Sakya berada di bawah kekuasaan Raja Pasenadi Kosala. Suku Sakya memuja dan menghormatinya, mereka bangkit dari tempat duduk, beranjali dan melayaninya. Sekarang, Vasettha; sama seperti Suku Sakya yang melayani Raja Pasenadi Kosala dengan hormat, demikian pula caranya Raja Pasenadi Kosala melayani Sang Tathagata. Karena Raja Pasenadi Kosala berpikir : Bukankah Samana Gotama sempurna kelahirannya (Sujato), sedangkan kelahiranku tidak sempurna ? Samana Gotama itu perkasa, sedangkan aku lemah. Samana Gotama itu sangat mengagumkan, sedangkan aku tidak. Samana Gotama itu memiliki pengaruh yang besar, sedangkan aku hanya memiliki pengaruh yang kecil saja. Demikianlah, karena Raja Pasenadi Kosala menghormati Dhamma, menghargai Dhamma, mengindahkan Dhamma, sujud pada Dhamma, menganggap suci Dhamma, maka ia memberikan hormat dan sujud pada Sang Tathagata, bangkit dari tempat duduk, beranjali dan melayani Beliau dengan hormat. Dengan contoh ini engkau dapat mengerti betapa Dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Vasettha, engkau semua yang berbeda keturunan, nama, suku dan keluarga; telah meninggalkan kehidupan rumah tangga; mungkin akan ditanya: Siapakah engkau ? Maka engkau harus menjawab: Kita adalah para pertapa yang mengikuti Samana putra Sakya.

Vasettha, dia yang teguh keyakinannya kepada Sang Tathagata, berakar, mantap dan kokoh, suatu keyakinan yang tidak dapat digoyahkan lagi oleh para pertapa dan brahmana, maupun oleh para dewa, mara dan Brahma atau siapa pun saja dalam dunia ini, ia dapat berkata: Aku adalah anak Sang Bhagava, lahir dari mulut Sang Bhagava, lahir dari Dhamma (Dhammajo), diciptakan oleh Dhamma (dhammanimmitta), pewaris Dhamma (dhammadayako). Mengaga demikian ? Karena, Vasettha, nama-nama berikut ini adalah sesuai untuk Sang Tathagata: Dhammakayo (Tubuh Dhamma), Brahmakayo (Tubuh Brahma), Dhammabhuto (perwujudan Dhamma), Brahmabhuto (Perwujudan Brahma).

Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur. Dan bilamana hal ini terjadi, umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abbassara (Alam Cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.

Vasettha, terdapat juga suatu saat, cepat atau lambat, setelah selang suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini mulai terbentuk kembali. Dan ketika hal ini terjadi, mahluk­mahluk yang mati di Abhassara (Alam Cahaya), biasanya terlahir kembali di sini sebagai manusia. Mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.

Pada waktu itu semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada; laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk­mahluk hanya dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.

Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul ke luar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tanah itu.

Kemudian, Vasettha, di antara mahluk mahluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko) berkata: O apakah ini? dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya. Dan mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari jarinya. Dengan mencicipinya, maka mereka diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk ke dalam diri mereka. Maka mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu menjadi lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak. Demikian pula dengan siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun terjadi. Demikianlah, Vasettha, sejauh itu bumi terbentuk kembali.

Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki bentuk tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka, mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahannya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka sari tanah itupun lenyap. Dengan lenyapnya sari tanah itu, mereka berkumpul bersama-sama dan meratapinya: "Sayang, lezatnya! Sayang lezatnya!" Demikian pula sekarang ini, apabila orang menikmati rasa enak, ia akan berkata: "Oh lezatnya! Oh lezatnya!; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan masa lampau, tanpa mereka mengetahui makna dari kata-kata itu.

Kemudian, Vasettha, ketika sari tanah lenyap bagi mahluk mahluk itu, muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (Bhumi­pappatiko). Cara tumbuhnya adalah seperti tumbuhnya cendawan. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; lama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu. Kemudian mahluk­mahluk itu mulai makan tumbuh-tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka berkembang menjadi lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir: Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul dan cara tumbuhnya adalah seperti bambu. Tumbuhan ini memiliki warna, bau dan rasa; sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warnanya tumbuhan itu; lama seperti madu tawon murni, demikianlah manisnya tumbuhan itu.

Kemudian, Vasettha, mahluk-mahluk itu mulai makan tumbuhan menjalar tersebut. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar tersebut, dan hal itu berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini; maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk, dengan berpikir : Kita lebih indah daripada mereka; mereka lebih buruk daripada kita. Sementara mereka bangga akan keindahan dirinya sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu pun lenyap. Dengan lenyapnya tumbuhan menjalar itu, mereka berkumpul bersama-sama meratapinya : "Kasihanilah kita, milik kita hilang! Demikian pula sekarang ini, bilamana orang-orang ditanya apa yang menyusahkannya, mereka menjawab : "Kasihanilah kita! Apa yang kita miliki telah hilang; yang sesungguhnya apa yang mereka ucapkan itu hanyalah mengikuti ucapan pada masa lampau, tanpa mengetahui makna daripada kata-kata itu."

Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap bagi mahluk-mahluk itu, muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak dalam alam terbuka (akattha-pako), tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Bilamana pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, maka keesokan paginya padi itu telah tumbuh den masak kembali. Bilamana pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang; maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali; demikian terus-menerus padi itu muncul.

Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan tentang keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin (methuna).

Vasettha, ketika mahluk-mahluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin, maka sebagian melempari dengan pasir, sebagian melempari dengan abu, sebagian melempari dengan kotoran sapi, dengan berteriak: "Kurang ajar! Kurang ajar!Bagaimana seseorang dapat berbuat demikian kepada orang lain?" Demikian pula sekarang ini, apabila seorang laki-laki dari tempat lain menjemput mempelai wanita dan membawanya pergi, orang-orang akan melempari mereka dengan pasir, abu atau kotoran sapi; yang sesungguhnya apa yang mereka lakukan itu hanyalah mengikuti bentuk­bentuk masa lampau, tanpa mengetahui makna daripada perbuatan itu.

Vasettha, apa yang pada waktu itu dipandang tidak sopan (adhamma sammata), sekarang dipandang sopan (dhamma-sammata). Pada waktu itu, mahluk-mahluk yang melakukan hubungan kelamin tidak diijinkan memasuki desa atau kota selama satu bulan penuh atau dua bulan. Dan pada waktu itu, oleh karena mahluk cepat sekali mencela perbuatan yang tidak sopan tersebut maka mereka mulai membuat rumah-rumah hanya untuk menyembunyikan perbuatan tidak sopan itu.

Vasettha, kemudian timbullah pikiran semacam ini dalam diri sebagian mahluk yang berwatak pemalas: "Mengapa aku harus melelahkan diriku dengan mengambil padi pada sore hari untuk makan malam, dan mengambil padi pada pagi hari untuk makan siang ? Bukankah sebaiknya aku mengambil padi yang cukup untuk makan malam dan makan siang sekaligus ?" Maka, setelah pergi, ia mengumpulkan padi yang cukup untuk dua kali makan.

Ketika mahluk-mahluk lain datang kepadanya dan berkata : "Sahabat yang baik, marilah kita pergi mengumpulkan padi" ia berkata : Tidak perlu, sahabat yang baik; aku telah mengambil padi untuk makan malam dan siang." Selanjutnya sebagian mahluk lain datang dan berkata kepadanya : "Sahabat yang baik, marilah kita pergi mengumpulkan padi"; ia berkata: "Tidak perlu, sahabat yang baik, aku telah mengambil padi untuk dua hari." Demikianlah, dalam cara yang sama mereka menyimpan padi yang cukup untuk empat hari dan selanjutnya untuk delapan hari.

Vasettha, sejak itu mahluk-mahluk tersebut mulai makan padi yang disimpan. Dedak mulai menutupi butir-butir padi yang dan butir-butir padi dibungkus sekam. Padi yang telah dituai atau potongan-potongan batangnya tidak tumbuh kembali, sehingga terjadi masa menunggu. Dan batang-batang padi mulai tumbuh serumpun.

Vasettha, kemudian mahluk-mahluk itu berkumpul bersama dan meratap dengan berkata : "Kebiasaan buruk telah muncul di kalangan kita. Dahulu kita hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa dan hidup dalam kemegahan. Kita hidup secara demikian dalam masa yang lama sekali.

Cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, muncullah bagi kita sari tanah dari dalam air, yang memiliki warna, bau dan rasa. Kita mulai membuat sari tanah itu menjadi gumpalan dan menikmatinya. Setelah kita berbuat demikian, maka cahaya tubuh kita lenyap. Ketika cahaya tersebut lenyap, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi mulai nampak; siang dan malam, bulan dan pertengahan bulan, musim-musim dan tahun-tahun pun nampak. Kita menikmati sari tanah tersebut, memakannya, hidup dengannya, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita, lalu muncullah tumbuh-tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko), yang memiliki warna, bau dan rasa. Kita mulai menikmatinya, memakannya, hidup dengannya, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu lenyap. Ketika tumbuhan yang muncul dari tanah itu telah lenyap, lalu muncullah tumbuhan menjalar, yang memiliki warna, bau dan rasa. Kita mulai menikmatinya, memakannya dan hidup dengannya, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaan­kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita, maka tumbuhan menjalar itu lenyap. Ketika tumbuhan menjalar telah lenyap, lalu muncullah padi yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam; harum dengan butir-butir yang bersih. Bilamana setiap malam kita memetik dan mengambilnya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus-menerus padi itu muncul. Kita menikmati padi ini, memakannya, hidup dengannya; dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Tetapi sejak kelakuan buruk dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan menjadi umum di kalangan kita, maka dedak telah menutupi butir padi yang bersih dan sekam juga telah membungkus butir-butir padi tersebut. Dan bilamana kita telah memetiknya, padi itu tidak langsung tumbuh kembali, sehingga terjadilah masa menunggu, dan batang-batang padi mulai tumbuh berumpun. Karena itu, sekarang ini marilah kita membagi ladang-ladang padi dengan membuat batas-batasnya."

Demikianlah mereka membagi ladang-ladang padi dan membuat batas di sekeliling ladang bagian mereka masing-masing.

Kemudian, Vasettha, sebagian mahluk yang memiliki pembawaan sifat serakah (lolajatiko), yang sedang menjaga ladang bagiannya sendiri, lalu mencuri padi dari ladang orang lain dan memakannya. Mereka menangkap dan memegangnya erat-erat, dan berkata : "Sahabat yang baik, sesungguhnya engkau dalam hal ini telah berbuat jahat. Sewaktu sedang menjaga ladangmu sendiri, kau telah mencuri milik orang lain dan memakannya. Perhatikanlah baik-baik, jangan berbuat demikian lagi." Untuk kedua kalinya ia berbuat demikian dan juga untuk ketiga kalinya. Dan kembali mereka menangkapnya dan menasehatinya : Sebagian dari mereka memukulnya dengan tangan, sebagian melemparinya dengan bongkahan tanah dan sebagian memukulnya dengan tongkat.

Vasettha, demikianlah awal munculnya perbuatan mencuri; dan pemeriksaan, kebohongan dan hukuman pun menjadi dikenal.

Vasettha, kemudian mahluk-mahluk itu berkumpul bersama dan meratap dengan berkata : "Perbuatan-perbuatan jahat telah muncul di kalangan kita, pencurian, pemeriksaan, kebohongan dan hukuman menjadi dikenal. Sebaiknya kita memilih salah seseorang di antara kita untuk mengadili mereka yang patut diadili, memeriksa mereka yang patut diperiksa, dan mengucilkan mereka yang harus dikucilkan. Dan untuk membalas jasanya, kita akan memberikan sebagian padi kita kepadanya."

Vasettha, kemudian mereka memilih salah seorang di antara mereka yang paling rupawan, paling disukai, paling menyenangkan, paling pandai, dengan berkata kepadanya: "Sahabat yang baik sebaiknya engkau mengadili orang yang patut diadili, memeriksa mereka yang patut diperiksa, mengucilkan mereka yang patut dikucilkan. Dan kita akan memberikan sebagian padi milik kita kepadamu."

Ia menyetujuinya dan berbuat demikian, dan mereka memberikan sebagian padi milik mereka kepadanya.

Vasettha, dipilih oleh banyak orang adalah apa yang dimaksud dengan Maha Sammata; maka Maha Sammata (Pilihan Agung) merupakan ungkapan pertama yang muncul (bagi seorang yang dipilih oleh banyak orang). Penguasa ladang adalah apa yang dimaksud dengan Khattiya; maka Khattiya merupakan ungkapan kedua yang muncul. Ia membuat senang orang lain dengan Dhamma, (dengan melaksanakan prinsip kebenaran) adalah apa yang dimaksud dengan Raja; maka Raja merupakan ungkapan ketiga yang muncul.

Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat Khattiya ini, yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau. Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dari orang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri dan bukan tidak diingini; dan hal itu terjadi sesuai dergan Dhamma (apa yang seharusnya demikian), bukan terjadi karena apa yang bukan-dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Vasettha, kemudian hal seperti berikut ini muncul pada diri orang-orang itu : "Perbuatan-perbuatan jahat telah muncul di kalangan kita, sehingga pencurian, pemerkosaan, kebohongan, hukuman dan pengucilan menjadi dikenal. Sekarang marilah kita menyingkirkan semua perbuatan jahat dan kebiasaan tidak sopan." Dan mereka melakukannya.

Vasettha, mereka yang menyingkirkan (bahenti) perbuatan-perbuatan jahat dan kebiasaan-kebiasaan tidak sopan adalah apa yang disebut dengan kata "brahmana"; demikianlah 'brahmana' merupakan ungkapan permulaan bagi mereka yang berbuat demikian. Mereka membuat pondok­pondok dari daun (pannakuti) di hutan, dan bersamadhi di situ. Mereka hidup tanpa perapian, tanpa asap, tidak mempergunakan alu dan lumpang; mereka mengumpulkan makanan pada sore hari untuk makan malam dan pada pagi hari untuk makan siang; mereka mencari makanan dengan memasuki desa, kampung dan kota. Setelah memperoleh makanan, mereka kembah lagi ke pondok mereka dan bersamadhi.

Ketika orang-orang melihat hal ini, mereka berkata: "Orang-orang ini, setelah membuat pondok-pondok dari daun di hutan, lalu bersamadhi di situ. Mereka hidup tanpa perapian, tanpa asap, tidak mempergunakan alu dan lumpang; mereka mengumpulkan makanan pada sore hari untuk makan malam, dan mengumpulkan makanan pada pagi hari untuk makan siang; mereka mencari makanan dengan memasuki desa, kampung dan kota. Setelah memperoleh makanan mereka kembali ke pondok-pondok mereka dan bersamadhi.

Vasettha, mereka yang bersamadhi (jhayanti) inilah yang dimaksud dengan Jhayaka atau pelaksana samadhi; demikianlah kata jhayaka merupakan ungkapan kedua yang muncul.

Vasettha, karena sebagian di antara mereka tidak tahan bersamadhi di pondok-pondok daun dalam hutan, maka mereka keluar dan tinggal di pinggir-pinggir desa-desa, kampung-kampung dan kota-kota, dan di sana mereka menulis buku (ganthe karonta). Dan ketika orang-orang melihat hal ini, mereka berkata: "Orang-orang ini, karena tidak tahan bersamadhi di pondok-pondok daun hutan, maka mereka keluar dan tinggal di pinggir desa-desa, kampung-kampung dan kota-kota, dan di sana mereka menulis buku. Mereka tidak bersamadhi (ajhayaka).

Vasettha, mereka yang tidak bersamadhi inilah yang dimaksud dengan "Ajhayaka"; demikianlah kata ajhayaka merupakan ungkapan-ungkapan ketiga yang timbul. Pada waktu itu mereka dipandang yang paling rendah, tetapi sekarang mereka menganggap diri merekalah yang paling tinggi.

Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat brahmana ini, dikenal menurut pernyataan permulaan pada masa lampau. Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga bukan dari orang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri, dan bukan tidak diingini, dan hal itu terjadi sesuai dengan Dhamma (apa yang seharusnya memang demikian), bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Selanjutnya, Vasettha, terdapat juga sebagian orang lain yang menempuh hidup berkeluarga dan melakukan berbagai macam perdagangan. Mereka yang menempuh hidup berkeluarga dan melakukan berbagai macam perdagangan (vissa) inilah yang dimaksud dengan 'Vessa' (Kaum Pedagang). Demikianlah kata Vessa ini dipergunakan sebagai ungkapan bagi orang-orang tersebut.

Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat vessa ini, yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau. Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dari orang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri, bukan tidak diingini; dan hal itu terjadi sesuai dengan dhamma (apa yang seharusnya demikian), bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Selanjutnya Vasettha, selebihnya dari orang-orang ini melakukan pekerjaan berburu. Mereka yang hidup dari hasil berburu dan perbuatan atau pekerjaan lain semacamnya inilah yang dimaksudkan dengan 'Sudda'. Demikianlah kata 'sudda''; ini dipergunakan sebagai ungkapan dari orang-orang tersebut.

Vasettha, demikianlah asal mula dari kelompok masyarakat sudda ini, yang dikenal sesuai dengan pernyataan permulaan pada masa lampau. Asal mula mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dari orang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri, dan bukan tidak diingini; dan hal itu terjadi sesuai dengan dhamma (apa yang seharusnya demikian), bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Selanjutnya Vasettha pada suatu waktu, ketika terdapat beberapa orang khattiya memandang rendah cara hidupnya sendiri, mereka meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh hidup sebagai orang tak berumah tangga, dengan berkata: "Aku ingin menjadi pertapa."

Juga terdapat beberapa orang brahmana yang memandang rendah cara hidupnya sendiri, mereka meninggalkan kehidupan bermah tangga dan menempuh kehidupan sebagai orang tak berumah tangga, dengan berkata: "Aku ingin menjadi pertapa."

Juga, terdapat beberapa orang vessa yang memandang rendah cara hidupnya sendiri, mereka meninggalkan kehidupan rumah tangga dan menempuh hidup sebagai orang tak berumah tangga, dengan berkata : "Aku ingin menjadi seorang pertapa."

Juga, terdapat beberapa orang sudda yang memandang rendah hidupnya sendiri, mereka meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menempuh hidup tak berumah tangga, dengan berkata : "Aku ingin menjadi seorang pertapa."

Vasettha, dari empat kelompok masyarakat ini muncullah kelompol pertapa. Asal-usul mereka adalah dari kalangan orang-orang itu juga, dan bukan dari orang-orang lain; dari keinginan mereka sendiri, dan bukan tidak diingini; dan hal itu terjadi sesuai dengan Dhamma (apa yang seharusnya demikian), dan bukan terjadi karena apa yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Vasettha, orang khattiya yang menempuh kehidupan jahat dalam perbuatan, perkataan dan pikiran; yang menganut pandangan-pandangan salah; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka terlahir kembali dalam alam celaka (apaya), alam sengsara (duggati), alam siksaan (vinipata), dan alam neraka (niraya).

Juga, orang brahmana yang menempuh kehidupan jahat dalam perbutan, perkataan dan pikiran; yang menganut pandangan-pandangan salah ; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, mereka terlahir kembali dalam alam celaka (apaya), alam sengsara (duggati), alam siksaan (vinipata), alam neraka (niraya).

Juga, orang vessa yang menempuh kehidupan jahat dalam perbuatan, perkataan dan pikiran; yang menganut pandangan-pandangan salah; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan­perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam celaka (apaya), alam sengsara (duggati), alam siksaan (vinipata), alam neraka (niraya).

Juga, orang sudda yang menempuh kehidupan salah dalam perbuatan, perkataan dan pikiran; menganut pandangan-pandangan salah; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan­perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam celaka (apaya), alam sengsara (duggati), alam siksaan (vinipata), alam neraka (niraya).

Vasettha, orang khattiya yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandangan benar; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia (suggati), alam surga (sagga).

Juga, orang brahmana yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandangan benar; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan­perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya. Setelah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.

Juga, orang vessa yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandangan benar; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan­perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.

Juga, orang sudda yang menempuh kehidupan bajik dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandangan benar; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, mereka akan terlahir kembali dalam alam bahagia, alam surga.

Vasettha, orang khattiya yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari), baik dan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan campuran (vimissaditthiko); maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara.

Juga, seorang brahmana yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari), baik dan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran ; yang menganut pandangan campuran (vimissaditthiko); maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara.

Juga, seorang vessa yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari), baik dan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran; yang menganut pandangan campuran (vimmissaditthiko); maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, ia terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara.

Juga, seorang sudda yang menempuh kehidupan ganda (dvaya kari ) baik dan buruk dalam perbuatan, perkataan dan pikiran, yang menganut pandangan-pandangan campuran; maka sebagai akibat dari pandangan-pandangan dan perbuatan-perbuatan campurannya itu, pada saat kehancuran tubuhnya, setelah mati, ia akan terlahir kembali dalam alam bahagia maupun alam sengsara.

Vasettha, seorang khattiya yang hidup dengan perbuatan, perkataan dan pikiran terkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempurna, maka ia akan mencapai pemusnahan total dari noda-noda batin (parinibbanena-parinibbati) dalam kehidupan sekarang ini.

Juga, seorang brahmana yang hidup dengan perbuatan, perkataan dan pikiran terkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempurna (satta bodhipakkhiya dhamma), maka ia akan mencapai pemusnahan total dari noda­noda batin atau parinibbana dalam kehidupan sekarang ini juga.

Juga, seorang vessa yang hidup dengan perbuatan, perkataan dan pikiran terkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempurna (satta bodhipakkhiya dhamma), maka ia akan mencapai pemusnahan total dari noda­noda batin atau parinibbana dalam kehidupan sekarang ini juga.

Juga, seorang sudda yang hidup dengan perbuatan, perkataan dan pikiran terkendali, yang telah mengembangkan tujuh faktor untuk mencapai penerangan sempurna (satta bodhipakkhiya dhamma), maka ia akan mencapai pemusnahan total dari noda­-noda batin atau parinibbana dalam kehidupan sekarang ini juga.

Vasettha, siapapun dari keempat kelompok masyarakat ini menjadi seorang bhikkhu, arahat, orang yang telah mengalahkan noda-noda batin (jinasavo), telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan (kata karaniyo), telah meletakkan beban (ohitabharo), telah mencapai kebebasan (anuppattasadattho), telah mematahkan ikatan kelahiran (parikakkhinabhavasannajano), telah terbebas karena memiliki pengetahuan (sammadannavimutto); maka dialah yang dinyatakan paling baik di antara mereka, berdasarkan kebenaran (dhamma) dan tidak atas dasar yang bukan dhamma (adhamma). Sesungguhnya, Vasettha, dhamma itu amat bermanfaat bagi umat manusia, baik dalam kehidupan sekarang ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Vasettha, syair ini telah diucapkan oleh Sanam Kumara, salah seorang dari para dewa Brahma :

"Khattiya adalah yang terbaik di antara kumpulan ini,
Yang mempertahankan garis keturunannya
Tetapi ia yang sempurna pengetahuan serta tindak tanduknya
Adalah yang terbaik di antara para dewa dan manusia."

Vasettha, syair ini telah diucapkan dengan baik dan bukannya diucapkan dengan tidak baik oleh Brahma Sanam Kumara, kata-kata yang baik bukan kata-kata yang buruk; penuh arti dan bukan kosong dari arti. Vasettha begitu pula aku menyatakan :

"Khattiya adalah yang terbaik di antara kumpulan ini
Yang mempertahankan garis keturunannya
Tetapi ia yang sempurna pengetahuan serta tindak tanduknya
Adalah yang terbaik di antara para dewa dan manusia."

Demikianlah sabda Sang Bhagava. Vasettha dan Bharadvaja merasa puas dan bersuka cita mendengar sabda Sang Bhagava itu.

(Sumber : Sutta Pitaka Digha Nikaya, Oleh : Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha, Penerbit : Badan Penerbit Ariya Surya Chandra, 1991)

Sutra Dharani Materai Kotak Sarira Seluruh Tubuh Rahasia Hati Semua Buddha

Sutra Dharani Materai Kotak Sarira Seluruh Tubuh Rahasia Hati Semua Buddha
The Sutra of Casket Seal Dharani From The Secrete Bodies, Relics of All Buddha's Heart
Sarva tathagatha dhisthana hrdaya guhyadhatu karannda mudra dharani sutra
Yiqie Rulaixin Bimi Quanshen Shilibaoqieyin Toulounijing
Diterjemahkan dalam dari bahasa sansekerta ke mandarin oleh Yang Arya Amoghavajra semasa dinasti Ting
Diterjemahkan dari bahasa mandarin ke bahasa inggris oleh Jian Shan Lin
Diterjemahkan dari bahasa inggris ke bahasa Indonesia oleh Ivan Taniputera

Taisho Tripitaka no. 1022 A & 1023


Demikianlah yang telah kudengar,


Sang Buddha sedang berdiam dikolam Kegemilangan Berharga di Taman Tanpa Kekotoran, Negeri Magadha. Ia di kelilinggi oleh kumpulan tak terhitung para Bodhisatva, asura, garuda, kinnara, mahoraga, manusia dan bukan manusia.

Pada saat itu hadirlah seorang brahmana mulia dalam kumpulan itu yg bernama Tanpa Kekotoran dan Cahaya mendalam. 

Ia merupakan seorang yg bijaksana dengan pengetahuan yang medalam. Semua orang senang berjumpa denganya. Ia berlindung kepada tiga permata dan senantiasa melaksanakan sepuluh tindakan bajik. Hatinya selalu diliputi belas kasih dan bijaksana. Ia selalu berharap agar semua mahkluk berada dalam keadaan yg sejahtera serta berlimpahan.

Brahmana yg bernama Tanpa Kekotoran dan Cahaya Mendalam itu berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekati Sang Buddha serta mengelilingi tujuh kali. Dipersembahkanya banyak bunga serta dupa kepada Buddha. Ia meletakkan jubah-jubah dan perhiasan yg sangat berharga dihadapan Buddha.
Ditundukan kepalanya sebagai tanda hormat ke kaki Sang Buddha, lalu berdiri di satu sisi seraya berkata, " kami mengundang yang di Junjung Dunia dan siapa saja yang hadir ditempat ini untuk bersama-sama menerima persembahan ditempat kediamanku besok pagi." Buddha menerima undangan itu.


Sang brahmana memahami bahwa Buddha menerima undangannya. Dengan segera ia kembali ketempat kediamannya serta mempersiapkan seratus makanan dan minuman lezat malam itu. Dibersihkanya seluruh gedung dan ruangan, serta digantungkanya banyak panji-panji. Pagi berikutnya, ia membawa serta keluarganya sambil membawa dupa dan bunga. Para pemain musik turut serta dalam rombongan tersebut. Mereka menghadap Buddha dan berkata," telah tiba waktunya, silahkan datang ke tempat kediamanku."

Buddha menyetujui apa yang dikatakan brahma Tanpa Kekotoran dan cahaya mendalam itu. Beliau mengumumkan pada semua yang hadir ditempat itu, " kalian semua hendaknya pergi kerumah brahmana ini guna menerima persembahan sehingga ia dapat memperoleh pahala kebajikan besar." Kemudian Buddha berdiri dari tempat duduknya dan bersamaan dengan itu memancarlah cahaya aneka warna. Semua orang yg menyaksikan ikut bangkit berdiri dan mulai berjalan bersama-sama.

Selanjutnya, sang brahmana beserta keluarganya berjalan sambil membawa dupa serta bunga . demikian pula dengan naga surgawi, delapan kelompok mahkluk hidup dan empat maharaja langit. Mereka berjalan didepan menjadi pembuka serta penunjuk jalan bagi Buddha.
Tidak berapa lama Buddha berjalan, tibalah Ia di sebuah taman yang bernama
" Kaya "


Disana terdapat stupa tua yang rusak dan ditumbuhi oleh alang-alang dan rumput. Stupa itu terkubur dalam tumpukan ubin serta bebatuan. Ia tampak bagaikan seonggok rumput. Buddha berjalan menuju stupa tersebut, yang memancarkan sinar gilang gemilang. Terdengarlah suara pujian dari gundukan Lumpur itu : " Bagus sekali, bagus sekali, dan engkau, wahai brahmana, akan menerima pahala dan kebajikan luar biasa." Kemudian Buddha menghaturkan penghormatan kepada stupa itu dan berjalan mengelilingi searah jarum jam.

Buddha mengambil jubahnya dan meletakkannya diatas gundukan lumpur tersebut. 

Ia menitikkan air mata dengan derasnya. Setelah menangis Buddha tersenyum kembali. Pada saat itu, para Buddha dari sepuluh penjuru menyaksikan peristiwa tersebut dan meneteskan air mata pula. Mereka memancarkan sinar terang pada stupa ini. Semua orang yang melihatnya menjadi gemetar dan bingung. Bodhisatva Vajrapani juga menitikkan air mata pada kesempatan itu. Ia berjalan kehadapan Buddha dengan sikap hormat sambil membawa vajranya dan bertanya :
" mengapa cahaya yang dipancarkanNya begitu gemilang ? mengapa Engkau menangis ?


Para Buddha dari sepuluh penjuru nenampakan diri dengan cemerlang yang sama. Kami berharap Tathagata menjawab pertanyaanku dihadapan semua yang hadir ditempat ini."


Sang Bhagavan memberitahu Vajrapani," tak terhingga Dharma Materi Rahasia Dharani Hati terdapat dalam stupa Kumpulan Sarira seluruh tubuh Buddha ini. Stupa ini benar-benar dipenuhi olehNya tanpa ada celah sedikitpun, sebanyak biji wijen dengan ratusan dan ribuan koti tubuh Buddha, yang banyaknya juga bagaikan biji wijen. Ratusan dan ribuan koti kumpulan sarira seluruh tubuh Buddha, bahkan 84.000 dharma bersemayam dalam stupa ini.

Selain itu, tak terhingga sarira yang berbentuk seperti kepala Buddha terdapat didalamnya. Hingga musabab yang luar biasa inilah, tidak peduli dimanapun stupa ini berada, ia memiliki daya spiritual yang luar biasa. Pahala kebajikanya sanggup mengabulkan seluruh dambaan duniawi.

Kemudian hadirin mendengarkan apa yang baru saja dibabarkan Buddha tersebut. Mereka menghapuskan segenap kekotoran batin dan begitu pula dengan seluruh kekwatiran dalam diri masing-masing.

Mereka merealisasi mata dharma nan murni serta memperoleh buah hasil sesuai dengan kondisi spiritual dan timbunan pahala kebajikan mereka yang beraneka ragam. Beberapa orang mencapai tingkatan Sakadagami, shrotapanna, anagami, arahat, pratyeka Buddha, Bodhisatva, avaivartas, serta kebijaksanaan sarvajnana. Selanjutnya ada juga mencapai tingkatan bodhisatva pertama, kedua, hingga kesepuluh. Beberapa diantara mereka menyempurnakan enam paramitha. Sang brahmana sendiri menghapuskan kekotoran batinnya dengan merealisasi lima penembusan spiritual.


Ketika Bodhisatva Vajrapani menyaksikan hal yang ajaib ini, ia bertanya pada Buddha, " bagus sekali, sungguh ajaib. Kami memperoleh pahala kebajikan luar biasa setelah mendengarnya. Jika kami mendengarkan ajaran kebenaran segenap hati menyakininya, berapa besarkah jasa serta pahala kebajikan yang kami peroleh ?

Buddha berkata, " Dengarlah wahai Vajrapani, jika ada pria atau wanita serta empat kelompok siswaKU yang memiliki keyakinan dimasa mendatang menuliskan sutra ini, maka tindakannya itu dapat disamakan dengan menyalin seluruh sutra yang dibabarkan sembilan juta sembilan ratus ribu koti Buddha, semua Buddha akan menjaganya laksana melindungi matanya sendiri, atau bagaikan seorang ibu yang merawat anaknya. Apabila seseorang membaca sutra ini, maka tindakan itu dapat disepadankan dengan membaca semua sutra yang dibabarkan para Buddha di masa lampau, sekarang dan mendatang. Oleh kerena itulah, sembilan juta sembilan ratus ribu koti Buddha, yang tercerahi, sebanyak biji wijen hadir semuanya tanpa celah sedikitpun. Mereka menampakan diri guna melimpahkan berkah baik siang maupun malam pada ini.

Semua Buddha yang jumlahnya bagaikan butiran pasir disungai gangga akan hadir, kendati para Buddha yang telah hadir sebelumnya masih belum meninggalkan tempat tersebut. Mereka datang bergiliran bagaikan pasir yang bergerak memutar dalam putaran air. Mereka datang tanpa henti, jika seseorang mempersembahkan bunga, jubah indah serta perhiasan, yang elok dipandang pada sutra ini, maka seluruh persembahan itu akan berubah menjadi bunga-bunga surgawi, sedangkan jubah serta perhiasannya akan menjadi benda-benda yang terbuat dari tujuh jenis permata dihadapan sembilan juta sembilan ratus ribu koti Buddha dari sepuluh penjuru tersebut. 

Benda-benda ini akan berlipat ganda sehingga setinggi gunung sameru guna dipersembahkan. Benih kebajikan yang mereka tanam sungguhlah besar."
Pada saat itu, para naga surgawi, delapan kelompok makhluk baik manusia dan bukan manusia mendengar mengenai hal ini. Mereka merasa keheranan dan berkata satu sama lain, " Begitu gundukan lumpur terbengkalai ini. Ia telah berubah wujud secara spiritual karena berkah para Buddha."
Vajrapani bertanya pada Buddha kembali


Yang di Junjung Dunia, mengapa stupa tujuh permata ini menjadi gundukan lumpur sekarang ?
Buddha berkata kepada Vajrapani, " ini bukanlah gundukan lumpur sama sekali. Ia merupakan stupa agung dan ajaib. Stupa ini tidak terlihat keagunganya karena pengaruh karma buruk orang yang melihatnya. Stupa itu tak terlihat tetapi keseluruhan tubuh Buddha yang tersimpan didalamnya tidaklah rusak, bagaimana mungkin tubuh vajra seorang Buddha dapat dihancurkan ?


Setelah aku parinirvana, pada jaman kemerosotan dan kekacauan, umat manusia akan melakukan tindakan-tindakan jahat, mereka akan terjerumus keneraka. Mereka tidak menyakini tiga permata, mereka tidak menamkan benih kebajikan. Buddha dharma akan lenyap karenanya. Tetapi stupa yang kuat dan kokoh ini tidak akan hancur karena berkat kekuatan spiritual semua Buddha. Para mahkluk yang diliputi pandangan salah diselubungi oleh karma buruk. Mereka menyia-yiakan permata berharga dan tidak tahu bagaimana memanfaatkannya, itulah yang menyebabkan aku menangis hari ini dan begitu pula dengan semua Buddha lainya.

Buddha memberitahu lebih jauh kepada Vajrapani, " jika ada yang menyalin sutra ini, dan meletakannya kedalam stupa, maka stupa itu akan berubah menjadi stupa gudang vajra semua Buddha. Ia juga merupakan stupa Berkah Rahasia Hati Dharani Semua Buddha. Ia merupakan stupa sembilan juta sembilan ratus ribu koti Buddha. Ia juga merupakan stupa Puncak Mahkota Usnisha dan Mata Semua Buddha.

Sutra ini akan dilindungi oleh kekuatan spiritual semua Buddha. Apabila ada orang yang meletakan sutra ini kedalam stupa atau patung Buddha, patung itu akan menjadi terbuat dari tujuh permata, serta memiliki daya kekuatan sehingga dapat mengabulkan segenap dambaan. Payung, tirai, jala, roda, piring, genta, alas dan anak tangga berharga akan tercipta dengan kekuatan berkah spiritual tersebut. Benda-benda yang terbuat dari lumpur, kayu, batu, atau bata akan berubah menjadi tujuh permata berharga karena kekuatan sutra ini.

Semua Buddha akan menambahkan daya kekuatannya dan tanpa henti memberkahi sutra ini dengan sabda-sabda murni.

Jika ada orang yang menghaturkan hormat dihadapan stupa ini serta mempersembahkan dupa serta bunga, kesalahan berat selama delapan juta kalpa akan dihapuskan. Ia akan terhindar dari segenap bencana dalam kehidupanya. Ia akan terlahir dikeluarga buddhis setelah wafat. Apabila ada orang yang seharusnya terjerumus kedalam neraka avici, namun menghaturkan penghormatan pada stupa ini walau sekali saja atau berjalan mengelilinggi searah jarum jam, maka gerbang neraka akan tertutup baginya dan jalan menuju bodhi ( pencerahan ) akan terbuka lebar.

Semua Buddha akan menberkahi dengan kekuatan spiritualnya tempat-tempat dimana terdapat stupa-stupa atau gambar Buddha ( semacam itu ). Tidak ada angin topan, badai dan halilintar yang membahayakan akan menimpa. Tidak ada ular berbisa, cacing berbahaya, serta hewan beracun lainya akan dapat melukai. Tidak ada singa, gajah gila, harimau, srigala, dan lebah liar akan membahayakan orang yang hidup disana. Tidak ada kepanikan yang disebabkan oleh makhluk halus, yaksa, raksasa, buta, nakhunshe, zheli, makhluk-makluk menakutkan atau penyakit ayan. Tidak akan ada penyakit baik karena serangan hawa dingin atau panas, tidak pula terjangkit penyakit lilou, tanzhu, borok, atau scabies.

Seseorang akan terhindar dari bencana hanya dengan semata mata memandang pada stupa itu.


Tidak ada wabah penyakit yang akan menimpa orang, kuda, hewan, anak laki-laki dan perempuan. Mereka tidak akan mengalami kematian tidak wajar, mereka tidak akan terluka oleh senjata tajam, air, maupun api. Mereka tidak akan menderita karena kelaparan atau kemiskinan. Tidak ada serangan gaib dan makhluk halus jahat serta mengerikan sanggup mencelakakan mereka.
Empat Maharaja Langit beserta pengikutnya akan melindungi mereka, para jendral yaksa dari ke dua puluh delapan divisi beserta matahari, bulan, panji lima bintang, dan bintang-bintang berekor akan melindungi mereka siang dan malam. 

Seluruh naga surgawi akan mengumpulkan uap air sehingga hujan dapat turun tepat pada waktunya. Seluruh makhluk surgawi termasuk dari surga Trayastimsha akan datang tiga kali guna menghaturkan persembahan.
Seluruh makhluk surgawi akan hadir tiga kali demi melantunkan pujian, mengelilingi serta menghaturkan sembah sujud bagi tempat tersebut. Maharaja Sakra beserta gadis-gadis surgawi akan turun menghaturkan persembahan tiga kali baik siang maupun malam. Tempat ini diberkahi oleh semua Buddha. Stupa ini memiliki kemuliaan seperti itu karena terdapat sutra didalamnya.


Jika ada orang mendirikan stupa ini dengan tanah liat, batu, kayu, emas, perak, tembaga atau timah hitam, lalu menuliskan dharani ini serta meletakannya didalam, stupa tersebut akan berubah menjadi tujuh permata mulia begitu dharani ini diletankan didalamnya. Anak tangga, piring, payung, tirai, genta, dan roda semuanya berubah menjadi tujuh permata mulia. Tubuh-tubuh Buddha yang berada di empat penjuru stupa ini akan melimpahkan perlindungannya baik siang maupun malam karena kekuatan dharma.

Stupa tujuh permata dengan sarira seluruh tubuh yang ajaib dan berharga akan bertumbuh dengan kekuatan dharani ini hingga tingginya mencapai surga Akanistha. Seluruh makhluk surgawi akan menghaturkan penghormatannya, melindungi, serta memberikan persembahan pada stupa ini, baik siang maupun malam, saat tingginya mencapai alam surga.
Vajrapani berkata," kami mengharap agar Buddha berbelas kasih pada kami dan sudi mengucapkan dharani tersebut."

Buddha berkata," dengarkan dan hafalkan, jangan sampai lupa. Perwujudan gemilang tubuh semua Buddha dari jaman sekarang dan akan datang beserta sarira seluruh tubuh Buddha masa lampau terdapat dalam dharani materai kotak ini. Selain itu, ketiga tubuh Buddha juga berada didalamnya." Kemudian Buddha melafalkan dharani itu :


Namas-trya-dhvikãnãm sarva tathãgatãnãm
Om bhuvi-bhavana vare va-care vaca-te
Culu-culu dhara-dhara
Sarva tathãgata dhãtu dhare padmãm bhavati
Jaya vare mucule smara
Tathãgata dharmma cakra pra-vartana
Vajre bodhi-manda alankãra alankrte
Sarva tathãgata-adhisthite
Bodhaya-bodhaya bodhi-bodhi buddhya-buddhya
Sambodhani-sambodhaya cala-cala-calantu
Sarva-ãvaranãni sarva pãpa vigate huru-huru
Sarva soka vigate
Sarva tathãgata hrdaya
Vajrini sambhara-sambhara
Sarva tathãgata guhya dhãrani mudre buddhe-subuddhe
Sarva tathãgata-adhisthita dhãtu garbhe svãhã
Samaya-adhisthite svãhã
Sarva tathãgata hrdaya dhãtu mudre svãhã
Su-pratisthita stûpe tathãgata-adhisthite
Huru-huru hûm-hûm svaha
Om sarva tathãgata-usnisa dhãtu mudrãni
Sarva tathãgatam sadhãtu vibhûsita-adhi-sthite
Hûm-hûm svãhã


Ketika Sang Buddha selesai mengucapkan dharani ini, semua Buddha melantunkan pujian dari dalam gundukan itu, " Baik sekali ! baik sekali ! Sakyamuni, Engkau hadir ditengah kekeruhan dunia serta membabarkan dharma mendalam ini demi kepentingan pada makhluk yang tidak memiliki sandaran hidup. Dharma penting ini akan bertahan demi melimpahkan kebajikan, kedamaian, serta kebahagiaan bagi semua makhluk dalam kurun waktu yang lama."

Pada saat itu, Sang Buddha memberitahu Vajrapani , " Dengarlah ! dengarlah ! dharma yang penting ini memiliki kekuatan spiritual dan kebajikan yang tak terukur. Ini bagaikan mutiara berharga penghias pada sebuah panji. Ia laksana penyebar batu-batu permata berharga demi memenuhi segenap dambaan makhluk hidup.

Jika ada pelaku kejahatan berat yang terjatuh kedalam neraka, yang sangat menderita dan tidak mengetahui pada siapa ia seharusnya berlindung. Bila putra atau cucu ini menyebut nama orang yang meninggal itu dan melafalkan dharani ini sebanyak tujuh kali, cairan tembaga serta besi yang panas dan membara di neraka dengan sekejap akan berubah menjadi kolam yang menyejukan, yang airnya memiliki delapan sifat menyenangkan. Sebuah bunga teratai dengan tudung mulia diatasnya akan muncul. 

Pintu neraka akan pecah berantakan dan jalan menuju bodhi akan terbuka lebar. Bunga teratai itu akan terbang dan menghantarnya menuju ketanah Buddha Sukhavati. Seluruh kebijaksanaan akan muncul dengan sendirinya. Ia akan berbahagia karena memiliki kesempatan untuk mendengar dharma serta berjumpa dengan seorang Buddha.

Jika ada orang yang menderita berbagai penyakit dan diserang oleh rasa sakit yang dahsyat karena telah melakukan kesalahan berat, apabila ia melafalkan dharani ini sebanyak dua puluh satu ( 21 ) kali. Seluruh penyakit dan kekhawatirannya akan lenyap. Ia akan menikmati tak terhitung berkah kebajikan serta berusia panjang.


Jika seseorang terlahir di keluarga yang miskin karena kekikirannya dimasa lampau, dimana pakaiannya tidak sanggup untuk menutupi seluruh tubuhnya. Selalu kekurangan makanan demi mempertahankan hidup, penampilannya menjadi lemah dan kurus. Orang lain tidak suka berjumpa dengannya. Apabila orang ini merasa malu dan pergi kesebuah gunung guna memetik beberapa bunga liar, menggiling beberapa batang kayu guna dijadikan dupa. Setelah itu, ia pergi kedepan stupa ini untuk menghaturkan hormat serta persembahan, berjalan mengelilingi tujuh kali searah dengan jarum jam, meneteskan air mata dan menyesali kesalahannya. 

Kemiskinan orang itu akan sirna dengan segera dan kemakmuran akan diperoleh. Tujuh permata berharga akan tercurah dengan derasnya, tidak ada kekurangan lagi. Tetapi mulai saat itu, ia harus mulai menghaturkan persembahan pada Buddha dan dharma serta beramal pada orang miskin. Jika ia menjadi kikir, kemakmuran yang diperoleh akan lenyap dengan seketika.

Jika seseorang mendirikan sebuah stupa dengan tinggi empat jari demi menamkan benih kebajikan. Entah ia menggunakan tanah liat atau batu bata sesuai dengan kemampuanya, lalu menuliskan dharani ini dan meletakkannya kedalam stupa. Kemudian ia bernamaskara dihadapan stupa itu sambil membawa bunga-bunga harum, maka awan harum akan memancar keluar dari stupa itu dikarenakan kekuatan dharani serta keyakinannya . Cahaya harum dan berwujud awan akan membumbung menuju seluruh alam dharma ( Dharmadathu ). Keharuman dan kegemilangan ini akan memanifestasikan aneka kebajikan. Pahala dan kebajikannya sama dengan yang telah disebut diatas. Tidak ada harapan yang tidak terpenuhi.
Pada jaman kemerosotan, jika ada pria atau wanita berbudi dari kalangan empat kelompok umat Buddha, berusaha keras untuk membangun stupa-stupa semacam ini dan meletakkan dharani ajaib ini kedalamnya, jasa dan pahala kebajikannya sungguh tak terukur.

Jika ada orang mengharapkan berkah dengan menjunjungi stupa ini, dimana ia mempersembahkan setangkai bunga atau dupa, bernamaskara dihadapan stupa tersebut, menghaturkan persembahan, serta mengelilinginya searah jarum jam, dikarenakan kebajikan semacam itu, orang tersebut dengan sendirinya akan memperoleh kebahagiaan , kedudukan tinggi, dan kemakmuran tanpa perlu bersusah payah. Umur panjang dan kekayaan akan dimilikinya tanpa perlu meminta. 


Musuh dari berbagai penjuru akan dikalahkan tanpa perlu bertarung, kebencian dan kutukan akan sirna tanpa usaha apapun, penyakit dan wabah penyakit akan menghindar dengan sendirinya, suami yang mulia atau istri yang baik akan diperoleh tanpa mencari, putra cerdas serta putri cantik akan diperoleh dan seluruh dambaan akan terpenuhi.
Jika terdapat burung, burung dara, anjing, srigala, nyamuk, dan semut, terkena bayangan stupa ini atau menginjak rerumputan disekitarnya, halangan karma mereka akan sirna serta terbebas dari kebodohan, mereka akan menerima kekayaan dharma

Jika ada orang melihat stupa ini, mendangar suara genta-gentanya, mendengar nama stupa ini, atau berada dibawa bayangannya, seluruh hambatan akibat karma buruknya akan dilenyapkan. Dambaan-dambaan hatinya akan terpenuhi. Ia akan menikmati hidup yang damai serta terlahir ditanah Buddha Sukavathi setelah kematiannya. 

Apabila ada orang yang menggunakan sedikit tanah untuk memperbaiki dinding stupa yang rusak atau menggunakan sebongkah batu kecil untuk menyangga stupa itu, berkah kebajkannya akan berlimpah dan usianya akan bertambah panjang. Ia akan terlahir sebagai raja pemutar roda dharma setelah kehidupan ini.

Setelah Aku parinirvana, jika ada seseorang diantara empat kelompok penganut ajaranKu mempersembahkan dupa dan bunga, dengan tulus berikar melafalkan dharani ini didepan stupa demi membebaskan para makhluk yang berada di alam penderitaan, maka setiap kalimat yang diucapkanya akan memancarkan cahaya gemilang hingga menyinari tiga alam sengsara. Seluruh penderitaan akan berakhir. Para makhluk akan terbebas dari penderitaan dan benih Buddha akan bertunas, mereka akan terlahir di tanah Buddha manapun sesuai kehendak mereka.

Jika ada orang yang berdiri dipuncak gunung dan melantunkan dharani ini dengan tulus, semua mahkluk yang berada dijangkaun pandangan orang itu, baik yang berambut, berbulu, hidup didalam tempurung, memiliki cangkang, yang hidup digunung, hutan, sungai atau lautan, akan terbebas dari belenggu dan kebodohan. Tiga hakekat asal Buddha akan memanifestasikan dirinya. Mereka akan bernaung dalam kedamaian nirvana. Jika ada orang yang berjalan dengan orang ini dijalan yang sama, menyentuh bajunya, menapaki jejak kaki orang ini, atau berbicara dengannya, kejahatan berat mereka akan dimusnahkan dan selain itu mereka akan mencapai kesuksesan.

Saat itu Buddha memberitahu Vajrapani, " Kini, Aku menyerahkan sutra dharani ini yang penuh misteri ini kepadamu. Engkau hendaknya menghormati dan melindunginya. Semoga sutra dharani ini dapat tersebar keseluruh penjuru dunia. Jangan biarkan para makhluk berhenti mempelajarinya.

Vajrapani berkata," aku sangat beruntung dapat berjumpa dengan yang dijunjung. Kami berikrar untuk melindungi dan menyebarkan sutra ini siang dan malam demi membalas budi kami kepada Sang Buddha. Jika ada orang yang menjalin, mempertahankan, dan merenungkan terus menerus sutra ini, kami akan meminta mahadewa Sakra, Empat Maharaja Langit, seluruh Naga, dan delapan kelompok makhluk surgawi untuk melindungi orang ini siang dan malam tanpa pernah meninggalkanya sekejappun."
Buddha berkata, " Baik sekali, Vajrapani, engkau melindungi dharma ini dan jangan hentikan curahan kebajikannya bagi semua makhluk di masa mendatang.

Pada saat itu, Yang Dijunjung Dunia telah selesai mengucapkan dharani Materai Kotak dan membabarkan dharma. Kemudian mereka pergi mengunjungi rumah sang bramana dan menerima persembahannya. Seluruh makhluk surgawi dan umat manusia memperoleh manfaat yang sangat besar. Mereka lalu pulang ke tempat kediamannya masing-masing.


Seluruh bhiksu, bhiksuni, umat awam pria dan wanita, naga surgawi, yaksha, ghandarva, asura, garuda, kinnara, dan maharoga, yakni semua makhluk, baik manusia ataupun bukan manusia bersuka cita karena pembabaran dharma ini. Mereka menyakini, menerima, mempertahankan, dan mempraktekkan apa yang baru saja dibabarkan oleh Sang Buddha.

SUTRA INTAN

Demikianlah telah kudengar, pada suatu waktu Hyang Buddha sedang berdiam di Taman Jetavana di kota Sarasvati, dimana beliau berkumpul dengan 1.250 bhiksu agung.

Pada saat hampir tiba waktu makan, Yang Dijunjungi mengenakan jubah dan membawa mangkuk menuju ke kota Sarasvati untuk meminta makanan dari rumah ke rumah, kemudian kembalilah beliau ke tempat semula. Setelah selesai makan beliau merapikan kembali alat-alat makan dan jubahNya, membersihkan kaki, mengatur tempat duduk dan kemudian duduk di atasnya.

Pada saat itu, Yang Arya Subhuti bangkit dari tempat duduknya di tengah-tengah persamuan itu, membiarkan bahu sebelah kanannya terbuka, berlutut di atas kaki kanan sambil merangkapkan kedua tangan, dan bersujud dengan hormat sambil bertanya kepada Hyang Buddha :"Yang Dijunjungi! Sungguh jarang terdapat, Tathagatha yang selalu mengingat dan melindungi para Bodhisattva serta memberi petunjuk kepada mereka. Yang Dijunjungi, jika ada pria maupun wanita bajik yang bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi, bagaimana seharusnya dia bertumpu dan mengendalikan hatinya?"

Hyang Buddha menjawab: "Bagus sekali, bagus sekali, Subhuti, seperti apa yang Engkau katakan, Tathagatha selalu mengingat dan melindungi para Bodhisattva serta memberi petunjuk kepada mereka. Sekarang dengarkanlah dengan baik. Aku akan memberitahukan kepadamu bagaimana seharusnya pria maupun wanita bajik yang bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi bertumpu dan mengendalikan hatinya."

"Ya! Tentu, Yang Dijunjungi! Kami akan mendengarkan dengan gembira dan penuh perhatian."

Hyang Buddha kemudian menjelaskan kepada Subhuti: "Semua Bodhisattva Mahasattva harus demikian mengendalikan hatinya dengan ikrar: "Aku harus menyebabkan segala jenis makhluk hidup - apakah yang terlahir dari penetasan telur, dari rahim, dari cairan atau dari perubahan wujud seketika, yang memiliki wujud atau tanpa wujud, yang memiliki kesadaran atau tanpa kesadaran, kesemuanya itu tanpa kecuali - untuk memasuki Nirvana sempurna dan berhenti bertumimbal lahir selamanya." Akan tetapi, Subhuti, sekalipun ada tak terhitung dan tak terhingga makhluk hidup yang dibebaskan dari arus tumimbal lahir, sebenarnya tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan. Mengapa? Subhuti, jika seorang Bodhisattva mengidentifikasikan dirinya sebagai "aku", sebagai manusia, sebagai makhluk
hidup dan sebagai kehidupan, maka dia sesungguhnya bukanlah seorang Bodhisattva."

"Lagipula, Subhuti, berkenaan dengan pelaksanaan Dharma, seorang Bodhisattva tidak boleh terikat oleh apapun sewaktu dia memberi. Dia tidak boleh terikat oleh wujud sewaktu memberi, juga tidak boleh terikat oleh suara, bau, rasa, objek sentuhan, ataupun objek mental (dharma) sewaktu dia memberi. Subhuti, seorang Bodhisattva harus memberi dengan demikian : Dia tidak boleh terikat pada ciri atau nama-rupa. Mengapa begitu? Jika seorang Bodhisattva tidak tercemar oleh ciri sewaktu dia memberi, pahala dan kebajikannya adalah tidak terukur."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah ruang angkasa di sebelah timur dapat diukur?"

"Tidak dapat, Yang Dijunjungi."

"Subhuti, apakah ruang angkasa di sebelah selatan, barat, utara, atau ruang di antara di atas dan dibawah dapat diukur?"

"Tidak dapat, Yang Dijunjungi."

"Subhuti, pahala dan kebajikan dari seorang Bodhisattva yang tidak terikat pada segala ciri sewaktu dia memberi juga demikian tidak terukur. Subhuti, seorang Bodhisattva haruslah bersikap demikian sebagaimana yang diajarkan."

"Subhuti, bagaiman pendapatmu, dapatkah Tathagatha dilihat dari ciri fisik-Nya?"

"Tidak, Yang Dijunjungi, Tathagatha tidak dapat dilihat dari ciri fisik-Nya. Mengapa begitu? Sebab ciri fisik yang dikatakan oleh Tathagatha itu sebenarnya bukan ciri fisik sejati."

Hyang Buddha membenarkan dan berkata kepada Subhuti: "Segala sesuatu yang mempunyai ciri adalah kosong dan palsu. Apabila engkau dapat memandang semua ciri sebagai bukan ciri, barulah kamu mengenal Hyang Tathagatha sejati."

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha: "Yang Dijunjungi, apakah di masa mendatang akan ada makhluk hidup yang setelah mendengarkan ajaran ini timbul kepercayaan yang murni?"
Hyang Buddha menjawab: "Subhuti, janganlah engkau berkata demikian: 500 tahun setelah Tathagatha meninggal kelak akan terdapat mereka yang dengan tekun menjalankan sila dan mengumpulkan pahala, yang akan mempercayai ajaran ini dan menerimanya dengan tulus. Ketahuilah bahwa orang seperti ini telah menanam akar kebajikan di masa lampau bukan hanya pada satu Buddha, dua
Buddha, tiga, empat, lima Buddha, melainkan telah menanam akar kebajikan pada jutaan Buddha yang tak terhitung. Mereka yang mendengar kalimat-kalimat dari Sutra ini dan membangkitkan sekejap pikiran dan keyakinan murni, semua ini akan diketahui dan dilihat oleh Tathagatha. Mereka akan memperoleh pahala dan kebajikan yang tak terukur. Apa sebabnya? Karena makhluk hidup seperti ini sudah tidak lagi terikat pada segala ciri keakuan, manusia, makhluk hidup dan kehidupan; juga tidak pada objek mental dan juga bukan objek mental. Jika hati makhluk hidup masih melekat pada ciri, maka mereka selalu terikat pada ciri yang membedakan keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Untuk alasan itulah, engkau tidak boleh terikat pada Dharma, juga pada bukan Dharma. Mengenai prinsip itu, Tathagatha sering berkata:"Kalian para bhiksu harus mengerti bahwa Dharma yang Kuuraikan adalah bagaikan rakit. Bahkan Dharma sekalipun harus dilepaskan, apalagi yang bukan Dharma."
"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah Tathagatha telah mencapai Anuttara-samyak-sambodhi? Apakaha Tathagatha telah mengajarkan Dharma?"
Subhuti menjawab: "Seperti apa yang kami pahami dari ajaran Hyang Buddha, sebenarnya tidak ada ajaran tertentu yang dinamakan Anuttara-samyak-sambodhi, dan juga tidak ada Dharma tertentu yang diajarkan oleh Tathagatha. Mengapa? Sebab Dharma yang diajarkan oleh Tathagatha semuanya tidak dapat dipegang atau dibicarakan dengan kata-kata. Itulah Dharma yang tidak berwujud, dan oleh karenanya para nabi dan orang suci semuanya sama-sama memperoleh Dharma tanpa gaya - asamkrta, walaupun berbeda atas kesadaran masing-masing untuk mencapainya. "

Subhuti, bagaimana pendapatmu, kalau seseorang memenuhi jutaan dunia dengan 7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana-amal, apakah pahala dan kebajikan yang diperolehnya banyak?"

Subhuti menjawab: "Banyak sekali, Yang Dijunjungi! Mengapa begitu? Sebab pahala dan kebajikan itu bukanlah pahala dan kebajikan sejati sifatnya, oleh karenanya Tathagatha mengatakan pahala dan kebajikannya sangat banyak."

"Di lain pihak, jika ada seorang lainnya menerima Sutra ini dan menjalankannya dengan tekun sekalipun hanya pada 4 bait gathanya saja atau mengajarkannya kepada orang lain, pahala dan kebajikannya akan melebihi orang yang terdahulu. Apakah sebabnya? Subhuti, semua Buddha dan jalan yang ditempuh untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi berasal dari Sutra ini. Subhuti, apa yang disebut sebagai Buddha Dharma itu pada hakekatnya bukanlah Buddha Dharma."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai tingkat Srotapanna boleh mempunyai pikiran "Aku telah memperoleh hasil Srotapana."

"Subhuti menjawab : "Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Mengapa? Srotapanna berarti memasuki arus suci, tetapi sebenarnya dia tidak memasuki apapun. Dia tidak memasuki kesejatian suara, bau, rasa, sentuhan, dan objek mental : Oleh karenanya dia dinamakan Srotapanna."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai Sakradagamin boleh mempunyai pikiran "Aku telah memperoleh hasil Sakradagamin?"

"Subhuti menjawab: "Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Mengapa? Karena Sakradagamin berarti seorang yang kembali hanya 1 kali lagi, tetapi sebenarnya bagi dia sendiri sudah tidak ada kelangsungan pergi datang, maka dia dinamakan Sakradagamin."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai tingkat Anagamin boleh mempunyai pikiran :"Aku telah memperoleh hasil Anagamin?"

Subhuti menjawab: "Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Karena Anagamin berarti dia yang tidak kembali lagi, tetapi sebenarnya dia sendiri tidak mengandung pikiran datang atau kembali lagi, maka dia dinamakan Anagamin."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah seorang yang telah mencapai tingkat Arhat boleh mempunyai pikiran "Aku telah memperoleh Ke-arhat-an?"

Subhuti menjawab : "Tidak boleh, Yang Dijunjungi! Karena sebenarnya tidak ada Dharma yang dinamakan Arhat. Yang Dijunjungi, apabila seorang Arhat mempunyai pikiran bahwa "Aku telah mencapai Ke-arhat-an" itu berarti masih ada kemelekatan pada diri, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Yang Dijunjungi, dengan berhasilnya aku menjalankan Samadhi "Tanpa Pertentangan", Hyang Buddha mengatakan bahwa aku adalah yang terunggul di antara manusia, bahwa aku adalah Arhat yang terunggul dalam membebaskan diri dari segala nafsu keinginan. Yang Dijunjungi, aku tak pernah berpikir "Aku adalah seorang Arhat yang terbebas dari nafsu keinginan". Jika aku mempunyai pikiran "Aku telah mencapai Ke-arhat-an", Yang Dijunjungi tidak akan berkata bahwa Subhuti adalah orang yang paling berhasil menjalankan ketenangan. Karena Subhuti justru tidak merasa menjalankan kehidupan pertapaan, Ia telah diberi nama Subhuti, yang gemar menjalankan ketenangan."

Hyang Buddha berkata kepada Subhuti : "Bagaimana pendapatmu, apakah ada Dharma apapun yang diperoleh Tathagatha sewaktu berada bersama Buddha Dipankara?"

"Tidak, Yang Dijunjungi! Sebenarnya tidak ada Dharma apapun yang diperoleh Tathagatha sewaktu berada bersama Buddha Dipankara."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah para Bodhisattva memperindah tanah suci?"

"Tidak, Yang Dijunjungi, apakah sebabnya? Karena alam Buddha itu hakekatnya tidak perlu diperindah lagi, hanya dalam penjelasan digunakan kata memperindah."

"Oleh karena itu, Subhuti, para Bodhisattva, Mahasattva harus menumbuhkan pikiran suci dan jangan menumpukan hati pada segala wujud. Dia tidak boleh menumpukan hatinya pada suara, bau, rasa, objek sentuhan, dan objek mental. Dia tidak boleh menumpukan hatinya pada apapun dan dimanapun."

Subhuti, andaikata ada orang yang tubuhnya sebesar gunung Semeru, bagaimana pendapatmu, apakah tubuh itu besar?"

"Subhuti menjawab: "Sangat besar, Yang Dijunjungi, apakah sebabnya? Karena apa yang diuraikan oleh Hyang Buddha itu adalah tubuh yang tidak sejati, oleh sebab itu dikatakan tubuh itu sangat besar."

"Subhuti, jika terdapat sungai Gangga yang banyaknya bagai butir-butir pasir di sungai Gangga, bagaimana pendapatmu, apakah butir-butir pasir dari semua sungai Gangga tersebut dpaat dikatakan banyak?"

Subhuti menjawab: "Sangat banyak, Yang Dijunjungi jumlah dari sungai-sungai Gangga itu saja sudah tak terhitung banyaknya, apalagi isi butir-butir pasirnya."

"Subhuti, akan Kututurkan dengan sebenarnya, jika ada seorang pria atau wanita bajik, dengan menggunakan 7 macam permata mulia untuk memenuhi dunia yang banyaknya bagai butir-butir pasir di semua sungai Gangga tersebut, dan memberikannya sebagai dana amal, apakah dia akan memperoleh banyak pahala?"

Subhuti menjawab :"Sangat banyak, Yang Dijunjungi."

Kemudian Hyang Buddha memberitahukan Subhuti: "Jika ada seorang pria atau wanita bajik menerima dan mempertahankan Sutra ini sekalipun hanya pada 4 bait gatha-nya serta mengajarkan kepada orang lain, pahala dan kebajikannya akan jauh melampaui pahala dan kebajikan orang yang terdahulu."


Lagipula., Subhuti, perlu engkau ketahui bahwa semua dewa, manusia, maupun asura di dunia ini harus memberikan persembahan ke tempat dimana biar sekalipun hanya 4 bait gatha dari Sutra ini dibacakan, sebagaimana halnya pada tempat suci atau Vihara, apalagi kalau di tempat itu ada orang yang bisa menerima, mempertahankan, mempelajari, dan membacakan Sutra tersebut. Subhuti, perlu engkau ketahui bahwa orang yang demikian itu meyakinkan Dharma yang paling utama dan langka. Di tempat manapun Sutra ini berada, di sana terdapat Buddha atau siswa yang menghormatinya."

Kemudian Subhuti berkata kepada Hyang Buddha : "Yang Dijunjungi, nama apakah yang harus diberikan kepada Sutra ini, dan bagaimana kami harus menerima dan mempertahankannya?"

Hyang Buddha memberitahukan Subhuti : "Sutra ini disebut Vajracchedika Prjana Paramita, engkau harus menerima dan mempertahankannya dengan nama ini. Apa sebabnya? Subhuti, paramita kebijaksanaan yang dibicarakan Hyang
Buddha sebenarnya bukan paramita kebijaksanaan, tapi hanya untuk percakapan dinamakan paramita kebijaksanaan."
"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah ada Dharma yang diajarkan oleh Tathagatha?"

Subhuti menjawab :"Yang Dijunjungi, Tathagatha tidak mengajarkan sesuatu apa pun."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu, apakah jumlah butir-butir debu yang memenuhi jutaan dunia dapat dikatakan banyak?"

"Sangat banyak, Yang Dijunjungi."

"Subhuti, butir-butir debu yang dikatakan oleh Tathagatha itu bukanlah butir-butir debu, namun hanya untuk bahasa percakapan dinamakan butir-butir debu, begitu pula jutaan dunia yang dikatakan athagatha itu bukanlah dunia, itupun hanya diberi nama dunia."
"Subhuti, bagaimana pendapatmu, dapatkah Tathagatha dilihat dengan mengenali ke-32 ciri fisik-Nya?"
"Tidak dapat, Yang Dijunjungi, orang tidak dapat melihat Tathagatha dengan mengenali ke-32 ciri fisik-Nya. Apakah sebabnya? Karena apa yang dikatakan ke-32 ciri-ciri oleh Tathagatha itu hanyalah ciri lahiriah saja, maka dinamakan 32 ciri."

"Subhuti, jika di satu pihak ada seorang laki-laki atau wanita bajik yang mengorbankan jiwanya berkali-kali untuk tujuan amal bakti sebanyak butir-butir pasir di sungai Gangga, dan apabila di pihak lain ada seorang yang menerima dan mempertahankan hanya 4 bait gatha dari Sutra ini sekalipun, dan menjelaskannya kepada orang lain, pahala yang diperolehnya akan lebih besar daripada orang pertama."

Pada saat itu, Subhuti, setelah mendengarkan uraian yang dalam dari Sutra ini, diliputi pengertian dan rasa haru sehingga mencucurkan air mata, berkata kepada Hyang Buddha : "Sungguh menakjubkan, Yang Dijunjungi. Sungguh dalam dan luas arti kata yang dibabarkan oleh Hyang Buddha dalam Sutra ini. Sejak memperoleh mata-kebijaksanaan sampai sekarang belum pernah kami dengar Sutra yang demikian.

Yang Dijunjungi, jika seseorang dapat mendengar penjelasan Sutra ini dengan hati murni dan penuh keyakinan, maka dia akan menyadari konsepsi ciri sejati. Perlu diketahui bahwa orang demikian telah memperoleh pahala kebajikan unggul yang jarang terdapat."

"Yang Dijunjungi, ciri sejati bukanlah ciri lahiriah, oleh karenanya dikatakan oleh Tathagatha sebagai ciri sejati. Yang Dijunjungi, kini sewaktu mendengar ajaran suci demikian, kami dapat menerima dan mempertahankannya dengan keyakinan dan pengertian tanpa kesulitan. Di masa yang akan datang, pada 500 tahun terakhir, akan ada makhluk hidup yang sewaktu mendengar Sutra ini, timbul keyakinan dan pengertian serta akan menerima dan mempertahankannya, orang ini adalah yang telah mencapai pahala unggul dan luar biasa. Apakah sebabnya? Orang ini sudah tidak mempunyai konsepsi keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Mengapa begitu? Karena ciri keakuan pada hakekatnya bukanlah ciri sejati, begitu pula tentang manusia, makhluk hidup, dan kehidupan, itu semua bukan ciri sejati. Karena itu mereka yang melepaskan segala konsepsi ciri disebut Buddha.


Hyang Buddha berkata kepada Subhuti : "Demikianlah, seperti yang engkau katakan, jika ada seseorang yang setelah mendengarkan Sutra ini tidak terkejut, tidak gentar, dan tidak takut melaksanakannya, hendaknya diketahui bahwa orang ini benar-benar luar biasa. Mengapa begitu? Subhuti, apa yang Tathagatha katakan sebagai Paramita pertama yaitu berdana sebenarnya bukan paramita pertama, hanya dalam kata-kata dinamakan Paramita pertama."

"Subhuti, Paramita Kesabaran, dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan Paramita kesabaran, oleh sebab itu dinamakan Paramita kesabaran. Mengapa begitu? Subhuti, itu bagaikan di masa lampau sewaktu Raja Kalinga memotong anggota tubuh-Ku, pada saat itu Aku tidak terikat pada ciri keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Mengapa begitu? Sewaktu anggota tubuh-Ku dipotong satu persatu, jika Aku masih mempunyai ciri tersebut, tentunya akan timbul rasa marah dan benci."

"Subhuti, selanjutnya Aku teringat bahwa di masa lalu, selama 500 kehidupan yang terakhir, Aku adalah pertapa yang melatih kesabaran. Di dalam semua kehidupan tersebut Aku tidak mempunyai ciri keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Oleh sebab itulah, Subhuti, seorang Bodhisattva harus melepaskan semua ciri, menumbuhkan pikiran Anuttara-samyaksambodhi. Dia harus enumbuhkan hati yang tidak bertumpu pada suara, bau, rasa, objek sentuhan dan dharma. Dia harus menumbuhkan hati yang tidak bertumpu pada apapun dan di manapun. Setiap tumpuan hati adalah bukan tumpuan sejati. Oleh karena itu Hyang Buddha mengatakan : "Hati Sang Bodhisattva tidak boleh bertumpu pada wujud sewaktu dia memberi". Subhuti, untuk memberi manfaat kepada makhluk hidup seorang Bodhisattva harus memberi dengan demikian. Semua ciri dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan ciri, dan semua mahkluk hidup dikatakan sebagai bukan makhluk hidup."

"Subhuti, Tathagatha adalah satu-satunya yang membicarakan kebenaran, yang membicarakan kenyataan, yang membicarakan apa yang sebenarnya, yang tidak membicarakan yang palsu, yang tidak membicarakan apa yang tidak sebenarnya. Subhuti, kebenaran yang diperoleh Tathagatha itu bukanlah nyata atau tidak nyata."

"Subhuti, seorang Bodhisattva yang hatinya bertumpu pada dharma sewaktu dia memberi itu bagaikan seorang yang memasuki kegelapan, dia tidak bisa melihat apa-apa. Seorang Bodhisattva yang hatinya tidak bertumpu pada dharma seewaktu dia memberi itu bagaikan seorang yang matanya dapat melihat di bawah cahaya matahari sehingga dia bisa melihat segala wujud."

"Subhuti, di masa yang akan datang, jika seorang laki-laki atau wanita bajik dapat menerima, mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini, maka Hyang Tathagatha dengan kebijaksanaan Buddha akan segera mengetahui dan melihat orang tersebut. Dia akan memperoleh pahala dan kebajikan yang tak-terukur dan tak-terbatas."

"Subhuti, seorang laki-laki atau wanita bajik, di waktu pagi boleh mengorbankan tubuhnya untuk perbuatan amal bakti berkali-kali sebanyak butir-butir pasir di sungai Gangga, dan kemudian di waktu siang maupun malam melakukan perbuatan yang sama sebanyak itu, mengorbankan tubuhnya dengan demikian selama jutaan kalpa yang tak terhitung. Tetapi jika seseorang lainnya mendengar Sutra ini dan mempercayainya dengan sepenuh hati, maka pahalanya akan melampaui orang yang pertama. Apalagi kalau ada yang bisa menerima, menyalin, mempertahankan, mempelajari, membacakan, dan menjelaskan isinya kepada orang lain. Subhuti, pahala dan kebajikan dari Sutra ini adalah tak terungkapkan, tak terbayangkan, tak terbatas dan di luar semua pujian. Sutra ini dibabarkan oleh Tathagatha bagi mereka yang telah menempuh Jalan Mahayana, mereka yang telah menempuh Jalan Utama. Jika seseorang bisa menerima, mempertahankan, mempelajari, membacakan dan menjelaskan kepada orang lain, mereka akan diketahui dan dilihat oleh Tathagatha. Orang yang demikian memperoleh pahala dan kebajikan yang tak terukur, tak terungkapkan, tak terbatas dan tak terbayangkan sehingga dengan
demikian mempertahankan Anuttara-samyak-sambodhinya Tathagatha."

"Mengapa begitu? Subhuti, seseorang yang menyukai Dharma yang lebih kecil terikat pada konsepsi keakuan, manusia, makhluk hidup, dan konsepsi kehidupan. Dia tidak dapat mendengar, menerima, mempertahankan, mempelajari, atau membacakan Sutra ini atau menjelaskannya kepada orang lain.

"Subhuti, para dewa, manusia dan asura di dunia memberikan persembahan ke tempat dimana Sutra ini ditemukan. Perlu engkau ketahui, bahwa tempat demikian adalah sebuah tempat suci bagaikan sebuah stupa dimana setiap orang harus bersujud dengan hormat, mengelilingi serta menyebarkan dupa dan bunga."

"Lagipula, Subhuti, jika seorang laki-laki atau wanita bajik yang menerima, mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini diejek dan dicemoohkan orang lain, itu sebenarnya merupakan rintangan karma bawaan dari kehidupan sebelumnya yang akan menjerumuskannya ke kehidupan menyedihkan. Tetapi karena dalam kehidupan sekarang dia dicemoohkan orang lain, rintangan
karmanya itu terhapuskan dan dia akan mencapai Anuttara-samyak-sambodhi.

"Subhuti, Aku teringat pada asamkheya kalpa yang tak terhitung di masa lalu sebelum Buddha Dipankara, Aku bertemu dengan 84.000 nayuta juta Buddha, dan memberikan persembahan serta melayani mereka semua tanpa terkecuali. Tetapi jika ada seseorang di jaman berakhirnya Dharma yang dapat menerima, mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini, pahala dan kebajikan
yang diperolehnya adalah 100 kali lebih, 1.000 kali lebih, sejuta ataupun suatu jumlah yang tak terbilang daripada pahala dan kebajikan yang Kuperoleh dari memberikan persembahan kepada semua Buddha tersebut."

"Subhuti, jika Aku harus menguraikan seluruh pahala dan kebajikan dari seorang laki-laki atau wanita bajik yang di jaman berakhirnya Dharma dapat menerima, mempertahankan, mempelajari dan membacakan Sutra ini, mereka yang mendengarkannya bisa menjadi gila dan tidak mempercayainya. Subhuti, perlu engkau ketahui bahwa arti dari Sutra ini adalah tak terbayangkan, dan buah
dari pahalanya juga tak terbayangkan."

Kemudian Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Dijunjungi, jika seorang laki-laki atau wanita bajik bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi, bagaimana seharusnya dia bertumpu, bagaimana seharusnya dia mengendalikan hatinya?"

Hyang Buddha memberitahu Subhuti, "Seorang laki-laki atau wanita bajik, yang bertekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi harus berpikiran demikian:"Aku harus membebaskan semua makhluk hidup dari arus tumimbal lahir, tetapi bila semua makhluk hidup sudah dibebaskan dari tumimbal lahir, sebenarnya sama sekali tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan. Mengapa begitu? Subhuti, jika seorang Bodhisattva masih mempunyai ciri keakuan, ciri manusia, ciri makhluk hidup dan ciri kehidupan, maka dia bukanlah seorang Bodhisattva. Apa sebabnya? Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma tentang tekad untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi.

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Sewaktu Tathagatha sedang berada bersama Buddha Dipankara, apakah ada Dharma untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi yang diperoleh?"

"Tidak, Yang Dijunjungi. Seperti apa yang kami pahami dari ajaran Hyang Buddha, sewaktu Hyang Buddha berada bersama Buddha Dipankara, tidak ada Dharma untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi yang diperoleh."


Hyang Buddha berkata, "Demikianlah, Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma tentang Anutara-samyak-sambodhi yang diperoleh Tathagatha. Subhuti, jika ada Dharma demikian yang diperoleh athagatha, maka Buddha Dipankara tidak akan memberikan pada-Ku ramalan, "Engkau akan mencapai ke-Buddha-an di masa yang akan datang dan bernama Sakyamuni." Karena sebenarnya tidak ada Dharma untuk mencapai Anuttara-samyak-sambodhi, maka Buddha Dipankara memberikan ramalan itu pada-Ku."

"Mengapa begitu? Tathagatha berarti hakiki dari semua Dharma. Jika seseorang mengatakan Tathagatha memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi, Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma demikian yang diperoleh Hyang Buddha. Subhuti, Anuttara-samyak-sambodhi yang dicapai Tathagatha, di dalamnya, bukanlah nyata atau tidak nyata. Oleh karena itu, Tathagatha mengatakan semua Dharma sebagai Buddhadharma. Subhuti, semua Dharma dikatakan sebagai bukan Dharma sejati. Oleh sebab itu disebut Dharma."

"Subhuti, itu bisa diandaikan sebagai tubuh seorang yang sangat besar."

Subhuti berkata: "Yang Dijunjungi, tubuh besar seseorang itu dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan tubuh besar, oleh sebab itu dinamakan tubuh besar."

"Subhuti, seorang Bodhisattva juga demikian, jika dia berkata, "Aku harus membebaskan makhluk hidup yang tak terhitung dari tumimbal lahir, maka dia tidak akan disebut seorang Bodhisattva. Apa sebabnya? Subhuti, sebenarnya tidak ada Dharma yang dinamakan Bodhisattva. Karena itu Hyang Buddha mengatakan semua Dharma tidak memiliki konsepsi diri, konsepsi manusia, konsepsi makhluk hidup, dan konsepsi kehidupan."

"Subhuti, jika seorang Bodhisattva mengatakan, "Aku akan menghiasi Tanah Buddha", dia tidak akan disebut Bodhisattva. Apa sebabnya? Memperindah tanah Buddha dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan memperindah. Oleh sebab itu dinamakan memperindah. Subhuti, jika seorang Bodhisattva memahami bahwa segala Dharma tidak memiliki konsepsi diri, Tathagatha menyebutnya sebagai
seorang Bodhisattva sejati."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha mempunyai mata fisik?"

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha mempunyai mata fisik."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha mempunyai mata dewa?" "Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha mempunyai mata dewa."

Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha mempunyai mata
kebijaksaan?"

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha mempunyai mata kebijaksanaan."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha mempunyai mata Dharma?"

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha mempunyai mata Dharma."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha mempunyai mata Buddha?"

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha mempunyai mata Buddha."
"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Apakah Tathagatha telah membicarakan butir-butir pasir di sungai Gangga?
"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Tathagatha telah bicara perihal butir-butir pasir tersebut."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika semua butir pasir di sungai Gangga menjadi jumlah sungai Gangga yang sama, dan semua butir pasir di dalam semua sungai Gangga tersebut menjadi tanah Buddha yang sama. Apakah jumlahnya sangat banyak?"

"Sangat banyak, Yang Dijunjungi." Hyang Buddha memberitahu Subhuti: "Semua bentuk pikiran yang beraneka ragam dari para makhluk hidup di semua tanah Buddha tersebut diketahui seluruhnya
oleh Tathagatha. Apa sebabnya? Semua pikiran dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan pikiran, karena itu disebut pikiran. Apa sebabnya? Subhuti, pikiran yang telah lalu tidak dapat dipegang, pikiran sekarang tidak dapat dipegang, pikiran yang akan datang tidak dapat dipegang."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika seseorang memenuhi jutaan dunia dengan 7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana amal, apakah orang itu akan memperoleh banyak pahala dari perbuatan tersebut?"

"Memang begitu, Yang Dijunjungi. Orang itu akan memperoleh sangat banyak pahala dari perbuatan tersebut."

"Subhuti, jika pahala dan kebajikan itu benar-benar nyata, Tathagatha tidak akan mengatakan memperoleh banyak pahala. Disebabkan oleh pahala dan kebajikan itu tidak nyata maka Tathagatha mengatakan memperoleh banyak pahala."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah Tathagatha dilihat dari kesempurnaan wujud fisik-Nya?"

"Tidak, Yang Dijunjungi. Tathagatha tidak dapat dilihat dari kesempurnaan wujud fisik-Nya. Apa sebabnya? Kesempurnaan wujud fisik dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan kesempurnaan wujud fisik, oleh sebab itu disebut kesempurnaan wujud fisik."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah Tathagatha dilihat dari kesempurnaan ciri-Nya?"

"Tidak, Yang Dijunjungi. Tathagatha tidak dapat dilihat dari kesempurnaan ciri-Nya. Apa sebabnya? Kesempurnaan ciri dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan kesempurnaan ciri, oleh sebab itu disebut kesempurnaan ciri."

"Subhuti, janganlah mengatakan Tathagatha punya pikiran "Aku telah membabarkan Dharma." Janganlah berpikir begitu. Apa sebabnya? Jika seseorang mengatakan bahwa Tathagatha telah membabarkan Dharma dia menghina Hyang Buddha disebabkan oleh ketidakmampuannya untuk mengerti apa yang kukatakan. Subhuti, di dalam Dharma yang dibabarkan sebenarnya tidak ada Dharma yang
bisa dibabarkan, oleh sebab itu disebut Dharma yang dibabarkan."

Kemudian Arya Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Dijunjungi, apakah ada makhluk hidup di masa yang akan datang yang akan mempercayai Sutra ini sewaktu mereka mendengarnya?"

Hyang Buddha berkata, "Subhuti, sebenarnya tidak ada makhluk hidup maupun bukan makhluk hidup. Apa sebabnya? Subhuti, makhluk hidup dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan makhluk hidup, oleh sebab itu disebut makhluk hidup."

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha : "Yang Dijunjungi, apakah dengan memperoleh Anuttara-Samyak-Sambodhi, Hyang Tathagatha tidak memperoleh apapun?"

Hyang Buddha menjawab: "Demikianlah, Subhuti. Mengenai Anuttara-Samyak-Sambodhi, sebenarnya tidak ada sedikitpun Dharma yang bisa diperoleh. Oleh sebab itu disebut Anuttara-Samyak-Sambodhi."

"Lagipula Subhuti, Dharma ini sama rata dan setara, tanpa tinggi maupun rendah. Oleh sebab itu dinamakan Anuttara-samyak-sambodhi. Mempraktekkan semua Dharma yang baik dengan tanpa konsepsi diri, konsepsi manusia, konsepsi makhluk hidup, dan konsepsi kehidupan adalah memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi. Subhuti, Dharma yang baik dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan Dharma yang baik. Oleh sebab itu dinamakan Dharma yang baik."

"Subhuti, jika ada timbunan 7 macam permata mulia yang jumlahnya sama dengan semua gunung Semeru di dalam jutaan dunia, dan seseorang memberikannya sebagai dana amal, dan seorang lainnya mengambil dari Prajna Paramita Sutra ini hanya 4 baris gatha saja, serta menerima, mempertahankan, mempelajari, membacakan, dan menerangkan kepada orang lain, pahala dan kebajikannya akan
melampaui orang pertama tadi berjuta-juta kali atau tak terhitung banyaknya."

"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Jika ada orang yang mengatakan bahwa Tathagatha mempunyai pikiran : "Aku akan membebaskan semua makhluk hidup". Subhuti, jangan mempunyai pikiran demikian. Mengapa? Karena sebenarnya tidak ada makhluk hidup yang dibebaskan oleh Tathagatha. Jika ada makhluk hidup yang dibebaskan oleh Tathagatha, maka Tathagatha akan mempunyai konsepsi
keakuan, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan. Subhuti, keberadaan konsepsi keakuan dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan keberadaan konsepsi diri tetapi orang awam menganggapnya sebagai keberadaan konsepsi keakuan. Subhuti, orang awam dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan orang awam. Oleh sebab itu dinamakan orang awam."


"Subhuti, bagaimana pendapatmu? Dapatkah seorang merenungkan athagatha dari ke 32 ciri fisik-Nya?"

Subhuti berkata, "Demikianlah, Yang Dijunjungi, seseorang dapat merenungkan Tathagatha dari ke-32 ciri fisikNya."

Hyang Buddha berkata, "Subhuti, jika Tathagatha dapat direnungkan dari ke-32 ciri fisik-Nya, maka seorang maharaja pemutar Dharma juga dapat menjadi seorang Tathagatha."

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Dijunjungi, seperti apa yang kami pahami dari ucapan Hyang Buddha, seseorang tidak seharusnya merenungkan Tathagatha dari ke-32 ciri fisik-Nya."

Pada saat itu Yang Dijunjungi mengucapkan suatu gatha yang berbunyi : Barang siapa melihat-Ku dalam wujud, Barang siapa mencari-Ku dalam suara, Dia mempraktekkan jalan menyimpang, Dan tidak dapat melihat Hyang Tathagatha.

"Subhuti, engkau mungkin mempunyai pikiran bahwa Tahagatha tidak memperoleh Anuttara-samyak-sambodhi dengan cara penyempurnaan ciri. Subhuti, jangan berpikiran bahwa Tathagatha tidak emperoleh Anuttara-samyak-sambodhi dengan cara penyempurnaan ciri. Subhuti, engkau tidak boleh berpikiran bahwa mereka yang telah bertekad mencapai Anuttara-samyak-sambodhi berarti enghancuran semua Dharma. Jangan berpikir demikian! Mereka yang telah bertekad mencapai Anuttara-samyak-sambodhi bukan berarti penghancuran semua ciri pada akhirnya."

"Subhuti, seorang Bodhisattva boleh memenuhi sistem dunia yang banyaknya bagai butir-butir pasir di sungai Gangga dengan 7 macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana amal. Tetapi jika seorang lainnya mengetahui bahwa semua Dharma tidak memiliki diri dan mencapai Anuttpatika-Dharma-ksanti, pahala dan kebajikan dari Bodhisattva tersebut akan melampaui Bodhisattva yang pertama. Mengapa begitu? Subhuti, itu disebabkan karena Bodhisattva tidak menerima pahala dan kebajikan."

Subhuti berkata kepada Hyang Buddha, "Yang Djunjungi, bagaimana bisa Bodhisattva tidak menerima pahala dan kebajikan?"

"Subhuti, karena Bodhisattva tidak boleh mengharapkan pahala dan kebajikan dari perbuatan baik yang dilakukannya, mereka dikatakan tidak menerima pahala dan kebajikan."

"Subhuti, jika ada orang mengatakan Tathagatha itu datang atau pergi, duduk atau berbaring, orang tersebut tidak mengerti maksud ajaran-Ku. Mengapa begitu? Karena Tathagatha tidak datang dari manapun juga tidak pergi ke manapun. Oleh sebab itu disebut Tathagatha."

"Subhuti, jika ada seorang laki-laki atau perempuan bajik meratakan jutaan dunia menjadi titik debu, bagaimana pendapatmu, apakah masa dari titik debu itu sangat besar?

Subhuti berkata, "Sangat besar, Yang Dijunjungi. Mengapa begitu? Jika masa dari titik debu itu benar-benar ada, Hyang Buddha tidak akan mengatakannya sebagai masa titik debu. Mengapa begitu? Masa titik debu dikatakan oleh Hyang Buddha sebagai bukan masa titik debu. Yang Dijunjungi, jutaan dunia dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan dunia, oleh sebab itu disebut dunia. Mengapa begitu? Jika dunia itu benar-benar ada, maka akan ada perpaduan ciri. Perpaduan ciri dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan perpaduan ciri. Oleh sebab itu disebut perpaduan ciri.

"Subhuti, perpaduan ciri tidak dapat dibicarakan, tetapi orang awam sangat terikat pada hal tersebut."

"Subhuti, jika seseorang mengatakan bahwa Hyang Buddha membicarakan konsepsi diri, konsepsi manusia, konsepsi makhluk hidup dan konsepsi kehidupan, bagaimana pendapatmu? Apakah orang itu mengerti makna ajaran-Ku?"
"Tidak, Yang Dijunjungi, orang itu tidak mengerti makna ajaran Tathagatha. Mengapa begitu? Konsepsi diri, manusia, makhluk hidup, dan kehidupan dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan konsepsi diri, bukan konsepsi manusia, bukan konsepsi makhluk hidup, dan bukan konsepsi kehidupan. Oleh sebab itu disebut demikian."

"Subhuti, mereka yang telah bertekad mencapai Anuttara-samyak-sambodhi harus mengetahui, memandang, percaya dan mengerti semua Dharma dengan demikian. Subhuti, ciri Dharma dikatakan oleh Tathagatha sebagai bukan ciri Dharma, oleh sebab itu disebut ciri Dharma."

"Subhuti, seseorang boleh memenuhi jutaan dunia tak terhitung dengan 7macam permata mulia dan memberikannya sebagai dana amal. Tetapi jika seorang laki-laki atau perempuan bajik yang telah bertekad mencapai Anuttara-samyak-sambodhi mengambil dari Sutra ini, sekalipun hanya 4 baris gatha saja dan menerima, mempertahankan, mempelajari, membacakan, dan menerangkannya dengan luas kepada orang lain, pahalanya akan melampaui orang pertama tadi." "Bagaimana caranya menerangkan kepada orang lain? Dengan tidak terikat pada ciri : tanpa tumpuan. Mengapa begitu? Semua Dharma yang terkondisi Adalah bagaikan mimpi, ilusi, gelembung, bayangan, Bagaikan titik embun dan kilatan petir, Renungkanlah dengan demikian.

Sesudah Hyang Buddha membabarkan Sutra ini, Arya Subhuti, semua bhiksu dan bhiksuni, upasaka dan upasika, serta para dewa, manusia, asura, mendengarkan apa yang dikatakan Hyang Buddha, bergembira, percaya, menerima, menghormati dan mempraktekkannya."

Sutra Harta



KHOTBAH PENIMBUNAN HARTA KEKAYAAN 

Walaupun harta seseorang ditimbun dalam-dalam di dasar sebuah Sumur, dengan tujuan apabila suatu saat diperlukan untuk suatu pertolongan maka harta yang disimpan itu akan dapat digunakannya. Atau ia berpikir, "Untuk pembebasanku dari kemarahan Raja atau untuk uang tebusan bila aku ditahan sebagai Sandera atau untuk melunasi hutang-hutang bila dalam keadaan sulit atau mengalami musibah". 

Inilah alasan - alasan seseorang untuk menimbun hartanya. Meskipun hartanya ditimbun dalam - dalam di dasar Sumur, sama sekali tidak akan mencukupi semua kebutuhannya untuk selama - lamanya.
Jika timbunan harta itu berpindah tempat, atau ia lupa dengan tanda-tandanya atau bila Naga - Naga mengambilnya atau Yakkha - Yakkha mencuri-nya". Mungkin juga timbunan harta itu dicuri oleh sanak keluarganya atau ia tidak men j aganya dengan baik atau bila buah Kamma baiknya telah habis, semua hartanya pun akan lenyap. 

Gemar berdana dan memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu indriya serta mempunyai pengendalian diri adalah timbunan "Harta Yang Terbaik", bagi seorang wanita maupun pria. Harta tersebut dapat diperoleh dengan berbuat kebajikan kepada Cetiya-Cetiya atau kepada Sangha, kepada orang lain atau para tamu, kepada lbu dan Ayah atau kepada orang yang lebih tua.
Inilah harta yang disimpan paling sempurna, tidak mungkin hilang, tidak mungkin ditinggalkan walaupun suatu saat akan meninggal, ia tetap akan membawanya. 

Tak ada seorang pun yang dapat mengambil harta itu. Perampok - Perampok pun tidak dapat merampasnya. Oleh karena itu, lakukanlah perbuatan - perbuatan bajik. Karena inilah harta yang paling balk. Inilah harta yang sangat memuaskan, yang diinginkan oleh para Dewa dan Manusia. Dengan buah jasa yang ditimbunnya, maka apa yang diinginkan akan tercapai.
Wajah cantik dan suara merdu, kemolekan dan kejelitaan, kekuasaan dan pengikut, semuanya diperoleh berkat buah kebajikannya. Kedaulatan dan kekuasaan kerajaan besar, kebahagiaan seorang Raja Cakkhavati atau kekuasaan Dewa di alam Surga, semuanya itu diperoleh berkat buah kebajikannya. 

Setiap kejayaan Manusia, setiap kebahagiaan Surga, bahkan Nibbana, semuanya itu diperoleh berkat buah kebajikannya, Memiliki sahabat - sahabat sejati, memiliki kebijaksanaan dan mencapai pembebasan, semuanya itu diperoleh berkat buah kebajikannya. 

Memiliki pengetahuan untuk mencapai pembebasan, mencapai kesempurnaan sebagai seorang Siswa, menjadi Pacceka Buddha atau Samma Sambuddha, semuanya itu diperoleh berkat buah kebajikannya. 

Demikian besarnya hasil yang diperoleh dari buah kebajikannya, oleh karena itu orang Bijaksana selalu bertekad untuk menimbun "Harta Kebajikannya".

Parabhava Sutta

Mengenali sebab-sebab penderitaan dalam PARABHAVA SUTTA
Terdapat 12 (dua belas) sebab – sebab penderitaan yang dikemukakan oleh SANG BUDDHA ketika menjawab pertanyaan seorang dewa yang ingin mengetahui tentang sebab – sebab penderitaan dalam PARABHAVA SUTTA ini. Kedua belas sebab-sebab penderitaan tersebut antara lain :
  1. Orang yang mengingkari Dharma.
  2. Ia yang mencintai orang-orang jahat, dan tidak berbuat sesuatu yang menyenangkan orang baik-baik, tetapi menyenangi kejahatan dan tipu muslihat.
  3. Orang yang senang tidur, senang pergaulan yang foya-foya, malas, mudah tersinggung, tidak bersemangat.
  4. Orang yang berada dalam keadaan makmur, tetapi tidak menyokong ibu dan ayahnya yang telah tua dan lemah.
  5. Ia yang dengan berbohong menipu seseorang brahmana atau samana, atau para orang suci lainnya.
  6. Orang yang memiliki kekayaan berlimpah-limpah (emas dan makanan), namun ia hanya memakainya untuk dirinya sendiri tanpa membagikannya pada orang lain (yang membutuhkannya).
  7. Orang yang merasa sombong atas keturunannya, kekayaan dan sukunya, bahkan merendahkan sanak keluarganya sendiri.
  8. Ia yang menyerahkan dirinya pada wanita-wanita, minuman keras, perjudian serta menghamburkan apa yang diperolehnya dengan susah payah.
  9. Orang yang tidak puas dengan istrinya sendiri, berhubungan dengan wanita-wanita pelacur, serta terlihat bersama-sama dengan istri orang lain.
  10. Orang yang telah melewati masa mudanya, tetapi membawa pulang seorang wanita berpayudara buah timbaru, dan tidak dapat tidur karena merasa cemburu terhadap dia.
  11. Ia yang memuliakan seorang wanita yang serakah, yang suka menghamburkan harta kekayaan, atau lelaki yang sejenis itu.
  12. Ia yang memiliki sedikit kekayaan, tetapi mempunyai banyak keinginan, terlahir sebagai seorang ksatria namun mengharapkan sebuah kerajaan.
 
Blogger Templates